Keluhan Petani Probolinggo saat Harga Jual Cabai Terjun Bebas

Musim hujan biasanya harga cabai merangkak naik. Namun, tidak untuk tahun ini. Di tingkatan petani cukup kecil. Karena itu, sejumlah petani memilih memanen dini dan tidak dijualnya ke pasaran.

MUKHAMAD ROSYIDI, Gading

Sejumlah pekerja di kebun cabai tampak melakukan panen. Menggunakan kaus bekas di caping mereka, panas terik coba ditepis. Meski begitu, sebagian dari pekerja masih tetap semangat.

Harga cabai di tingkat petani yang tetap di angka Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogramnya, membuat petani merugi. Athari, 45, petani cabai asal Desa Dandang, Kecamatan Gading mengatakan, tanaman cabai miliknya ditanam sekitar tiga bulan yang lalu di atas lahan seluas setengah hektare.

Ia mengaku menanam cabai dengan kualitas baik. Harapannya, harga jualnya melambung. Namun, realitanya tak berbanding lurus dengan harapannya. Harga cabai jatuh. “Harga cabai merosot jauh. Cabai saya dihargai Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu per kilo. Harga segitu nggak usah untuk kembalikan modal. Buat bayar ongkos tukang petik saja nggak cukup,” ujarnya memulai pembicaraan.

Untuk mengurangi ongkos produksi, ia kadang turun langsung untuk memetik cabai yang telah memerah. Bukan hanya dia, tetapi istrinya yakni Umi Kulsum, juga ikut membantu. Sehingga, jika kadang menggunakan enam orang, saat ini hanya menggunakan juru petik cabai empat orang.

“Seharinya Rp 25 ribu untuk ongkos juru petiknya. Jadi, saya dan istri ikut terjun juga untuk mengurangi cost,” ujarnya. Keuntungan yang didapat Athari juga tidak sepenuhnya ia ambil. Melainkan dibagi dua terlebih dahulu dengan pembeli.

“Satu kali panen itu dapat 1 kuintal. Dan, satu kuintalnya itu seharga Rp 500 ribu. Dua ratus ribunya untuk ongkos petik dan makan sedangkan tiga ratusnya itu untuk kami bagi dua dengan pemilik lahan,” ungkapnya.

Lebih parah lagi yaitu harga pupuk mahal. Setiap kali panen, tanaman harus dipupuk. Hal berbeda dilakukan petani lain yaitu setiap kali panen menghabiskan tiga kali pupuk satu kuintal. Per kuintalnya seharga Rp 125 ribu. “Ya itu sudah. Bisa juga dikatakan tidak dapat sama sekali,” tuturnya.

Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas membabat habis tanamannya. Hal itu karena menurutnya hanya itulah pekerjaan yang bisa untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. “Ya, terpaksa ditelateni saja. Soalnya kami hanya dari situ penghasilannya. Ada juga yang punya anak, tetapi masak mau meminta kepada anak,” ungkapnya.

Mulyadi, 40, warga Desa Randumerak, Kecamatan Paiton menyebutkan, karena harga yang murah ini, Ia membabat habis tanamannya setelah satu kali panen. Hal itu dilakukan lantaran tidak berimbang antara pendapatan dan ongkos produksi. “Ya mau gimana lagi. Hanya itu yang saya bisa lakukan. Jika dibiarkan terus ya membuang-buang uang namanya,” katanya.

“Harga cabai sudah tak propetani,” cetusnya. Mulyadi melanjutkan, ia justru menyesal menanam cabai di ladangnya yang berukuran 400 meter persegi itu. Makanya, untuk menyiasati kondisi tersebut, ia melakukan panen dini dan langsung memotong pohon cabainya untuk ditanami dengan tanaman lain yang hasilnya lebih besar.

“Memang semuanya ada risikonya. Karena itu daripada terus keluar uang dan harga cabai tidak juga naik saya panen semuanya. Meskipun hijau, kuning, ataupun merah saya cabut semua,” katanya. Namun, masalah tidak selesai sampai di situ. Maklum, ia kehabisan modal saat menanam cabai. (rf)