Tokoh Lintas Agama dan Warga Tengger Doakan Pemilu Aman

SUKAPURA – Menjelang Pemilu 2019, ribuan warga Suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar doa lintas agama di halaman Hotel Sukapura Permai, (13/2). Mereka berasal dari tiga agama berbeda. Harapannya, pelaksanaan Pemilu 2019 berjalan dengan aman.

Setidaknya, ada sekitar seribu warga dari berbagai agama yang hadir mengikuti doa lintas agama menjelang pemilu itu. Meski berbeda keyakinan, mereka saling menyapa dan berjabat tangan.

Saat acara berlangsung, tiga tokoh agama berbeda memimpin doa secara bergantian. Yaitu, Pendeta Ruben Onju mewakili umat kristiani; Bambang Suprapto, ketua PHDI (Parisade Hindu Darma Indonesia) Kabupaten Probolinggo; dan Ustad Ali Wafa, ketua MWCNU Kecamatan Sukapura. Doa ketiganya sama, yaitu untuk kedamaian Indonesia dan agar Pemilu 2019 berjalan dengan aman dan lancar.

Hasan Aminuddin, anggota DPR RI yang hadir dalam acara itu mengatakan, doa bersama menjelang Pemilu 2019, digelar di 24 kecamatan. Namun, baru pertama kali diadakan oleh tokoh agama yang berbeda. “Ini pertama kali dilakukan oleh para tokoh agama, dilakukan doa bergantian,” terang tokoh masyarakat di Kabupaten Probolinggo itu.

Pengalaman yang terjadi saat ini, dikatakan Hasan, semestinya dilakukan oleh tokoh nasonal di Jakarta. Di kampung atau desa, tidak ada persoalan dengan perbedaan agama dalam mengamalkan Pancasila. Mereka dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing, sama-sama mendoakan untuk Indonesia.

”Tokoh nasional yang ada di Indonesia hendaknuya belajar dari pengalaman Pancasila oleh tokoh agama di seluruh pedesaan. Sebagaimana terjadi di Sukapura ini,” terangnya.

Mangku Sugiono, 36, salah satu warga Suku Tengger Sukapura yang ikut mengatakan, pemilu harus disikapi dengan dewasa. Meski berbeda pilihan, tapi tidak harus membuat tali persaudaraan rusak. Apalagi, perbedaan keyakinan baginya bukan menjadi halangan untuk menjalin persaudaraan.

”Kalau soal pilihan itu menjadi hak masing-masing. Termasuk perbedaan keyakinan, kepercayaan, dan agama, tidak boleh menjadi penyebab perselisihan. Karena perbedaan itu indah. Tinggal bagaimana sikap toleransi kita dalam menjalin silaturahmi,” katanya.

Dengan doa lintas agama ini, dikatakan Sugiono, membuktikan di Indonesia masih banyak warga yang hidup rukun dan sama-sama berharap pemilu berjalan aman. Meskipun berbeda pilihan, keyakinan, dan agama.

“Pemilu harus menjadi bukti, bahwa di Indonesia beraneka perbedaan, tapi tetap bersatu dan tidak terpecahkan. Kami berharap dan berdoa bersama, Indonesia aman dan pelaksanaan Pemilu 2019, berjalan dengan tenteram, aman, dan sukses,” harapnya. (mas/hn)