MUI Minta Tindaklanjuti Pemerintah Daerah Fatwa soal Valentine Haram

PROBOLINGGO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mengeluarkan surat edaran terkait dengan larangan umat muslim untuk memperingati perayaan valentin. Larangan itu juga diteruskan MUI Kota Probolinggo, yang meminta agar umat muslim juga tak ikut merayakan hari tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Ketua MUI Kota Probolinggo Nizar Irsyad, Kamis (14/2) siang. Menurutnya, dalam edaran tersebut sudah jelas, bahwa umat muslim dilarang untuk ikut ikutan merayakan hari valentine, termasuk sampai memakai atribut.

Sehingga sesuai yang tertuang dalam rekomendasi MUI Provinsi Jawa Timur sebagaimana terdapat dalam Keputusan Fatwa MUI Provinsi Jawa Timur No. Kep-2/SKFMUI/JTM/XII/2014, MUI Kota Probolinggo juga meminta pemkot setempat menindaklanjuti surat edaran MUI Jatim..

“Rekomendasi dari kami, meminta kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada umat Islam sebagai warga negara untuk dapat menjalankan agamanya secara konsekuen dan benar,” imbuhnya.

Adapun isi dari rekomendasiMUI Jatim, kata Nizar, yakni meminta kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada umat Islam sebagai warga negara dari segala tindakan berupa ajakan, pemaksaan, dan tekanan. Termasuk atas nama ikatan kerja, untuk melakukan hal-hal yang dianggap tidak benar atau bertentangan menurut agama seperti penggunaan simbol-simbol atau atribut agama tertentu yang diperlakukan kepada penganut agama Islam.

MUI juga meminta kepada pemerintah agar dalam membangun kerukunan hidup antara umat beragama, tidak perlu ada upaya mendramatisir kerukunan. Sehingga justru dapat menodai kemurnian ajaran agama. Untuk itu cukup dibangun suasana kehidupan bermasyarakat yang rukun, saling menghormati masing-masing pihak yang berbeda, tidak saling mengganggu, kesediaan untuk mematuhi norma hukum yang berlaku dan bekerjasama dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Fatwa MUI Jatim dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa terdapat fenomena di masyarakat pada saat peringatan hari besar agama tertentu sering kali para pemilik usaha pertokoan, rumah makan, super market, atau departemen store, dan lain sebagainya secara latah meminta kepada karyawannya untuk menggunakan atribut dari agama tertentu. Seperti pakaian Sinterklas pada saat hari Natal sekalipun karyawan yang bersangkutan tidak menganut agama yang dimaksud. “Sehingga tidak boleh lagi ada atasan yang memaksakan kariyawanya untuk menggunakan atribut tersebut (valentine/santa),” terangnya.

Selain itu, lanjut Nizar, fenomena tersebut telah menimbulkan keresahan dari umat Islam karena terdapat kesanksian terkait dengan status hukumnya menurut ajaran Islam. Bahwa terdapat kesimpangsiuran pendapat di kalangan masyarakat, para tokoh, dan pejabat publik menyikapi hal tersebut termasuk diantaranya yang cenderung memudahkan sehingga dapat berpeluang merongrong pemahaman umat terhadap ajaran Islam dan mendangkalkan aqidahnya. (rpd/fun)