Enam Siswa SDN Sukabumi 4 Kena DBD, Sekolah Difogging

KANIGARAN – Enam siswa SD Negeri Sukabumi 4 sejak pekan lalu tidak masuk sekolah. Ternyata, enam siswa tersebut positif menderita demam berdarah dengue (DBD). Mereka pun dibawa ke RSUD dr Mohamad Saleh untuk menjalani perawatan.

Kepala SDN Sukabumi 4 Riani mengatakan, 6 siswa tersebut berasal dari kelas 5. Enam siswa sempat dirawat di rumah sakit, tapi sudah keluar. Namun, semuanya belum masuk sekolah.Semua siswa masih belum masuk sekolah,” ujarnya.

Riani mengungkapkan, dari pihak orang tua siswa telah memberikan keterangan bahwa putra-putrinya positif DBD. Sehingga, Senin kemarin pihak sekolah melaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) adanya 6 siswa positif DBD.

Jumat (15/2) SDN Sukabumi 4 ini didatangi tim kesehatan dari Dinas Kesehatan bersama Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin untuk dilakukan fogging. Sekitar 6 petugas dengan 3 alat fogging melakukan pengasapan di lingkungan sekolah.

Petugas lantas masuk ke kelas-kelas, lingkungan kantin sekolah, saluran air, kolam, serta tempat cuci tangan. Di beberapa kolam, tidak terlihat genangan air.

“Kalau kolam ikan ini memang kami kosongkan. Kalau kolam air pancur ini tergenang karena air hujan. Kolam air mancur ini juga tidak ada saluran pembuangan jadi harus dikuras dulu,” ujar Riani.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Probolinggo drg Ninik Ira Wibawati mengungkapkan, pada tahun 2019 ada 2 kecamatan yang cukup tinggi angka penderita DBD. Pada Januari ada Kecamatan Kademangan dan Kecamatan Kanigaran. “Januari ada 13 kasus di Kademangan dan 4 kasus di Kanigaran. Untuk Februari masih belum masuk semuanya,” ujarnya.

Ninik menjelaskan, di Kecamatan Kademangan cukup banyak usaha penampungan barang bekas seperti ban bekas. Saat musim hujan ini seperti saat ini, tempat penyimpanan barang bekas menjadi salah satu tempat yang menimbulkan genangan air.

Upaya melakukan pengasapan atau fogging di lingkungan yang terdapat warga positif DBD bukan merupakan cara efektif untuk mencegah terjadinya DBD. Hal ini karena fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa.

Hal ini diungkapkan oleh Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin saat memantau proses fogging di SDN Sukabumi 4. “Fogging bukanlah solusi untuk memberantas nyamuk. Namun, langkah efektif untuk mencegah DBD adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Pemberantasan sarang nyamuk ini bisa dilakukan di tiap rumah dengan memantau lokasi penampungan air. Jika terdapat jentik nyamuk, maka harus segera dibersihkan. “Tadi kami melihat ada beberapa tempat penampungan air. Ini, harus dibersihkan,” ujarnya.

Habib Hadi memastikan bahwa masyarakat harus memahami bahwa penyelesaian DBD tidak bisa tanpa keterlibatan masyarakat. Masyarakat harus paham bahwa pemerintah hanya bisa melakukan pencegahan. “Masyarakat di sini juga bisa ikut andil bersama pemerintah untuk melakukan pencegahan,” ujarnya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Ninik itu mengatakan, tidak setiap laporan adanya penderita DBD yang masuk ke Dinkes dilakukan fogging. “Ada tahapan yang perlu dilakukan petugas kesehatan sebelum memutuskan perlu atau tidaknya fogging. Misalnya, dimulai dari penelitian laporan DBD,” ujarnya.

Ninik menjelaskan bahwa obat yang digunakan. Obat ini merupakan racun untuk membunuh serangga. “Jika obat ini disemprotkan hanya bisa membunuh nyamuk dewasa. Bahkan, ketika disemprot nyamuk-nyamuk pun bisa terbang menghindari semprotan akhirnya nyamuk ini pun menyebar ke berbagai tempat,” ujarnya.

Ninik memastikan pemberantasan sarang nyamuk merupakan langkah paling efektif untuk menekan angka penderita DBD. Termasuk melakukan pemeriksaan terhadap lokasi-lokasi yang ada genangan air.

“Warga juga bisa memelihara ikan cupang. Ikan ini efektif untuk memakan jentik nyamuk. Bisa juga meminta abate di Puskesmas. Di sana dibagikan secara gratis,” ujarnya. (put/rf)