Kerajinan Atap Welit dari Ilalang di Desa Kedawung Wetan yang Pasarnya Tembus Bali hingga Kalimantan

Masyarakat Desa Kedawung Wetan mulai banyak yang melakukan usaha mandiri. Tak hanya mengandalkan dari sektor pertanian. Usaha baru terus bertumbuhan. Salah satunya adalah kerajinan atap welit yang pengirimannya sudah sampai ke luar daerah.

ERRI KARTIKA, Grati

Tak sulit menuju ke lokasi Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Terletak di Jalan Raya Pantura termasuk jalur menuju Probolinggo dan ke Kecamatan Winongan, membuat wilayah desa setempat banyak dilalui kendaraan. Hal ini membuat masyarakat juga mulai berwirausaha.

Muji Slamet, Kepala Desa Kedawung Wetan mengatakan bahwa wirausaha ini mulai banyak digeluti oleh warga setempat. Menurutnya, hal tersebut adalah hal bagus karena bisa mengentaskan pengangguran lantaran bisa menyerap tenaga kerja sekitar.

“Disini ada bermacam-macam usaha mandiri. Mulai dari pembuatan batu bata, sandal sepatu kulit, makanan seperti keripik singkong, keripik pisang, bisnis katering termasuk pembuatan atap welit,” terangnya.

Salah satu yang membuat atap welit adalah Sujak. Dia sudah lama menekuni atap welit. Produk kerajinan buatannya memang cukup bagus, karena rapat sehingga tahan bocor dan bertahan hingga lama.

“Karena kualitas bagus sehingga dicari konsumen luar kota sampai luar provinsi termasuk dari Kalimantan dan Bali berburunya sampai kesini,” terangnya.

Untuk permintaan yang jauh, bisa sekali pesan hingga ribuan atap dan dikirim lewat kontainer. Untuk ukuran panjangnya sekitar 2 meter dan biasanya sesuai permintaan dan digunakan untuk atap-atap gazebo, rumah makan lesehan, yang ada unsur etnik atau tradisional.

Untuk bahan sendiri adalah dari rumput ilalang atau rumput liar yang dikeringkan. Muji Slamet menambahkan, pembuatan atap welit biasanya menjadi pekerjaan sampingan selain mata pencaharian utamanya bertani.

“Sehingga bisa dikerjakan kapan saja sepulang dari kerja dan bisa dikerjakan di rumah dan sistem pembuatannya dikerjakan warga dengan sistem borongan dan lumayan untuk tambahan penghasilan,” terangnya.

Dengan usaha-usaha yang timbul di masyarakat setempat cukup mendorong perekonomian. Ke depan, desa tetap akan mendorong program-program pelatihan demi mengasah ketrampilan baru dalam kemampuan berwirausaha dan membaca peluang usaha.

“Salah satu caranya nanti akan diwadahi dari BUMDes, sehingga bisa terbantu baik dari segi modal, promosi sampai pemasaran agar pertumbuhan ekonomi makin meningkat,” pungkasnya. (fun)