Kreativitas Ibnu Aimin yang Memanfaatkan Seni Airbrush Pada Pakaian

Seni airbrush ternyata tidak hanya bisa digunakan untuk modif motor. Ternyata, seni airbrush ini juga bisa digunakan untuk pakaian. Adalah Ibnu Aimin, 35, warga Singopolo, Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil yang melakukan eksperimen tersebut. Siapa sangka, hasil kreasinya menembus pasar Hongkong dan Malaysia.

IWAN ANDRIK, Bangil

Kaos polos warna hitam itu ditempelkan Ibnu Aimin pada sebuah papan. Ia kemudian mengambil sebatang krayon, untuk membuat sebuah pola. Sesekali, matanya melirik gambar foto yang ada di pojokan papan. Ini untuk menyesuaikan pola yang dibuatnya, supaya benar-benar mirip dengan gambar atau foto yang dipesan.

Tak butuh waktu lama. Hanya beberapa menit saja, ia menyelesaikan pola. Selanjutnya, ia pun mengambil pen brush, untuk kemudian menyemprotkannya ke pola atau garis yang sudah dibuatnya. “Biasanya, saya membutuhkan waktu hingga empat jam untuk menyelesaikan satu kaos airbrush,” kata Ibnu Aimin saat ditemui di galeri airbrushnya.

Ibnu –sapaan akrabnya– memang seorang seniman airbrush. Namun, kemampuan airbrush-nya bukan untuk modif motor. Melainkan untuk hal yang lebih unik, berupa kaos, topi, kanvas bahkan sepatu kain.

Ide pembuatan airbrush pakaian tersebut, bermula dari “dendam” atas sepinya seni lukis pakaian. Ia mengaku, dulunya memang sempat menjadi pelukis pakaian. Bahkan, ia sempat merasakan masa kejayaan lukis pakaian. Sekitar 8 tahun yang lalu. “Waktu itu, seni lukis pakaian sedang ramai-ramainya. Saya sempat menikmati hasilnya,” ungkap dia.

Namun, seiringnya waktu, pesanan lukis pakaian mulai meredup. Padahal, kebutuhan hidup tak pernah surut. Ia pun berpikir keras, untuk melanjutkan hidup. Hingga suatu hari, ia melihat seni airbrush di facebook. Ia pun tertarik untuk mempraktikkannya.

“Saya sempat melihat seni airbrush itu di facebook tiga tahun yang lalu. Akhirnya saya coba-coba dan alhmadulillah bisa,” kenangnya. Ia kemudian membeli peralatan seadanya. Percobaannya dimulai dengan “menggambar” anaknya pada kaos. Meski tak sempurna, hasilnya cukup bagus.

Buktinya, banyak orang yang kemudian tertarik untuk dibuatkan gambar serupa. “Setelah saya coba menggambar anak saya, yang kini berusia enam tahun, banyak yang suka. Dari situ, saya mulai terima pesanan,” ungkap bapak satu anak tersebut.

Pesanan berdatangan dari kerabat. Ia juga memposting kreasinya, untuk menjangkau pasar lebih luas. Hasilnya, cukup memuaskan. Karena, pesanan datang dari berbagai daerah. Tak hanya Surabaya, Jakarta hingga Semarang. Bahkan ia juga menerima pesanan, dari TKI yang ada di Hongkong hingga Malaysia.

Pesanan juga datang dari negeri Paman Sam, Amerika hingga Turki. Namun, rencana pengiriman dibatalkannya. Karena besarnya ongkos yang harus dikeluarkannya.

“Pernah juga ada pesanan dari Amerika dan Turki. Tapi, batal mencapai kesepakatan. Karena, ongkos kirimnya, tak sebanding dengan harga kaos airbrush yang saya buat. Harga kaos dikisaran Rp 150 ribu. Sementara ongkirnya, mencapai Rp 3 juta,” kenang suami dari Yolanda ini.

Hingga kini, kerajinan kaos airbrush Ibnu tidak pernah sepi. Sehari, bisa 10 kaos pesanan didapatkannya. Namun, keterbatasan tenaga, membuatnya tak mampu menyelesaikan semuanya. Paling banyak, ia bisa menyelesaikan empat kaos seharinya.

“Alhamdulillah, pesanan cukup banyak. Sehari, bisa 10 kaos. Tapi, tidak mungkin bisa saya selesaikan semuanya. Maksimal, hanya empat kaos yang bisa saya selesaikan per harinya,” tukas dia. Ia bisa menyelesaikan semua gambar. Tergantung pesanan dari konsumen. Rata-rata, gambar yang dibuatnya adalah wajah.

Meski terlihat lancar, namun bisnis yang dijalaninya itu tak semulus yang dikira banyak orang. Karena dalam menjalankan usahanya itu, ia tak jarang menerima komplain dari pemesan. Rata-rata, mereka menganggap gambar airbrush yang dibuatnya kurang sesuai.

Bahkan, pernah karyanya tidak dibayar. “Padahal, gambar sudah capek-capek saya buatkan. Tapi setelah jadi, yang pesan, enggan untuk konfirmasi lagi. Di situ, saya merasa di-PHP-in (pemberi harapan palsu, red),” imbuh pemilik galeri Kiv airbrush tersebut.

Meski begitu, ia tak patah arang. Apalagi, trauma untuk berkreasi lagi. Justru persoalan yang dihadapinya tersebut, dijadikan tantangan. “Saya tidak trauma. Karena memang inilah jalah hidup saya,” pungkas dia. (rf)