Inilah Komunitas Penggemar Koi di Probolinggo yang Hobi Sekaligus Budi Daya

Koi adalah salah satu jenis ikan hias yang banyak penggemarnya. Di Probolinggo, kini muncul komunitas ikan bernama lain Cyprinus Carpio dan terkenal mahal. Bahkan sudah ada yang membudi dayakan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Minggu (17/2) siang, suasana GOR Kedopok nampak riuh dengan banyaknya warga yang datang. Mereka berkerumun di depan GOR tepat di depan kolam-kolam berwarna biru.

DILELANG: Suasana kontes koi yang digelar di GOR Kedopok, Minggu (17/2) pagi. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Disana, mereka nampak serius memperhatikan ikan berwarna-warni. Ikan-ikan ini memiliki penampilan yang menarik.

Bentuk tubuh yang memanjang dengan gabungan warna putih, hitam, oranye dan merah. Beberapa anak-anak nampak terpukau dengan ikan-ikan tersebut.

Ikan tersebut adalah ikan koi. Ikan yang berasal dari Negeri Sakura ini dikenal memiliki tampilan yang menarik. Tidak heran ikan ini memiliki banyak penggemar. Seperti siang itu, saat ratusan penggemar ikan koi berkumpul di ajang kontes Probolinggo Young Koi Show 2019.

Suasana kontes semakin menghangat ketika ada kegiatan lelang ikan. Puluhan ikan koi dari berbagai ukuran dan warna, dibawa oleh sejumlah komunitas yang ikut dan bergabung di lelang tersebut.

Ikan-ikan ini mendapatkan harga yang membuat tercengang bagi warga yang bukan penggemar ikan koi. Betapa tidak, harga yang termurah disaat kontes, ditawarkan dengan harga Rp 500 ribu. Saat lelang, ikan itu juga ada yang ditawar sampai jutaan rupiah.

Dalam kontes koi tersebut banyak berkumpul komunitas penggemar koi dari berbagai daerah. Mulai dari sekitar Jawa Timur sampai Jakarta.

Salah satunya adalah Komunitas ikan koi asal Probolinggo yang bernama Koi Lovers Probolinggo. Komunitas ini beranggotakan pecinta Koi asal Kota dan Kabupaten Probolinggo.

“Terbentuknya tahun 2014 dengan anggota awal 5 orang,” ujar Lukman Hakim, ketua Koi Lover Probolinggo.

Anggota komunitas ini pun berkembang dari tahun ke tahun. Saat ini di tahun ke 5, komunitas ini terbentuk ada sekitar 30 orang anggota. “Kalau pengurusnya ada 12 orang,” jelasnya.

Lukman menjelaskan awal terbentuknya komunitas ini berawal dari dirinya yang mengembangkan budi daya koi di Kraksaan. Lokasinya berada di rumahnya di Desa Kebonagung.

“Saat itu tahun 2014, saya melihat tanah saya nganggur. Kebetulan di Blitar banyak budi daya koi. Akhirnya mencoba dikembangkan di Probolinggo,” ujarnya.

Pertama kali membudi dayakan koi, kata Lukman, dia membawa jenis koi yang paling populer di kalangan pengemar. Yaitu jenis Kohaku. “Koi jenis ini adalah ikan yang paling prestisius, ikan yang paling digemari penggemar ikan koi,” ujarnya.

Lukman mengaku tidak kesulitan untuk membudi dayakan koi di Probolinggo. Mengingat kondisi cuaca di Probolinggo jauh lebih panas dibandingkan di Blitar tempat asal Bibit ikan Koi yang dikembangkannya.

“Koi memang berasal dari Jepang, negeri dengan 4 musim. Tapi justru dengan cuaca yang panas seperti Probolinggo, malah bagus untuk ikan koi,” ujarnya.

Hal ini dirasakan betul Lukman ketika mengawali budi daya koi. Awalnya koi yang dibawa dari Blitar berwarna oranye. “Namun setelah 2 minggu di pelihara di Probolinggo, warna orange ini berganti jadi merah terang,” ujarnya.

Menurut Lukman, pembudi daya koi di Blitar menggunakan plastik UV untuk menangkap panas. Sehingga ikan koi bisa mendapatkan panas yang maksimal. “Kalau di Probolinggo tidak perlu lagi menggunakan plastik UV karena udaranya memang sudah panas,” ujarnya. Ketertarikan Lukman pada ikan koi ini terutama pada keunikan warna serta corak pada koi.

Tidak hanya Lukman saja yang tertarik pada ikan koi, Yisa, warga Desa Sidopekso, Kraksaan. “Saya sebenarnya sudah lama tertarik dengan ikan koi. Namun baru 4 bulan ini mulai menekuni,” ujarnya.

Yisa awalnya adalah seorang peternak ikan lele. Namun beralih melakukan budi daya koi sejak November 2018. “Sudah lama tertarik koi. Tapi karena masih bingung dengan pemasarannya, akhirnya tidak segera ditekuni. Baru setelah gabung di komunitas ini, dapat informasi lebih jelas soal pasar ikan koi,” ujarnya.

Sama seperti penggemar koi lainnya, Yisa tertarik karena ikan ini memiliki warna-warna serta motif yang menarik. Selain itu harganya relatif stabil karena pasarnya juga terbatas.

Budidaya koi memiliki peluang untuk pengembangan UMKM. Bahkan pemasaran ikan koi pun bisa dilakukan melalui online.

Hal ini diungkapkan Sugiarto, Ketua Asosiasi Pecinta Koi Indonesia. Menurutnya dunia ikan hias seperti ikan koi memiliki potensi besar untuk usaha. “Melalui media sosial, jual beli koi hampir setiap saat terjadi di kalangan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.

Sementara itu Sudiman, Kepala Dinas Perikanan Kota Probolinggo menjelaskan, pengembangan koi ini masuk dalam kelompok budi daya. Namun bukan budi daya untuk ikan konsumsi namun ikan hias.

Lukman Hakim, Ketua Koi Lovers Probolinggo membenarkan bahwa budi daya koi memiliki potensi untuk dipasarkan ke luar daerah. Pengiriman koi ini bisa dilakukan melalui kereta api.

“Ikan dikemas dalam kantong plastik yang telah ditambahkan oksigen. Oksigen didalam plastik ini bisa bertahan selama 24 jam,” ujarnya. Selain dikemas dengan plastik, ikan yang akan dikirim dikemas dengan kardus untuk melindungi dari benda tajam. (fun)