Penyandang Disabilitas Ini Aktif Sosialisasikan Pemilu 2019

Keterbatasan Denny Kurniawan sebagai tunanetra, tak menyurutkan semangatnya. Ia getol mengajak penyandang disabilitas lain untuk tidak golput dalam Pemilu 17 April mendatang.

ERRI KARTIKA, Bugulkidul

Sekilas aktivitas Denny Kurniawan, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, ini tak berbeda dengan remaja lainnya. Tangannya aktif memegang smartphone dan berkomunikasi lewat WhatsApp. Ketika ditelisik, ternyata layar handphone-nya menghadap ke sisi yang berlawanan arah dari kebanyakan orang.

Ya, Denny Kurniawan adalah penyandang disabilitas. Meski tak bisa melihat, Denny termasuk disabilitas yang tidak menyerah pada keadaan. Bahkan, ia berani tampil menjadi satu-satunya disabilitas yang terdaftar sebagai Relawan Demokrasi (Relasi). Relawan yang dibentuk KPU untuk memberikan sosialisasi pada pemilih.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Denny terlihat mendengarkan aplikasi suara yang keluar dari ponselnya. Dengan cekatan, ia menyentuh layar ponsel untuk masuk ke aplikasi WhatsApp. Denny lantas berkomunikasi baik lewat pesan suara ataupun text. Tentu dengan bantuan aplikasi Talkback.

Pria 24 tahun ini memang tak bisa dipandang sebelah mata. Kendati tidak bisa melihat, namun sejak remaja dia aktif di berbagai kegiatan. Selain sebagai penyiar di 2 radio, anak pertama dari 2 bersaudara ini juga tercatat sebagai mahasiswa hukum di Universitas Merdeka (Unmer) Pasuruan.

Tak hanya itu, Denny juga menjabat sebagai wakil ketua di Persatuan Tunanetra (Pertuni) Pasuruan. Kendati kegiatannya cukup padat, namun ia menyempatkan diri untuk terlibat aktif dalam Pemilu 2019. Sejak Januari lalu, Denny menjadi salah satu Relawan Demokrasi yang diandalkan KPU Kabupaten Pasuruan.

Tugasnya tidak ringan. Sebagai satu-satunya penyandang disabilitas, ia punya tanggung jawab menyosialisasikan Pemilu pada warga Kabupaten Pasuruan sesama penyandang disabilitas. “Relawan demokrasi ini ada bagiannya sendiri-sendiri. Ada yang fokus ke pemuda, keluarga, pemula, marginal, dan saya fokus ke disabilitas,” terangnya.

Sejak akhir tahun lalu, Denny mengaku sudah mendengar adanya rekrutmen relawan demokrasi. Seketika ia memutuskan untuk ikut serta. Sehingga, pada Januari lalu Denny pun datang ke KPU Kabupaten Pasuruan. Tentu, mendaftarnya Denny sebagai relawan, disambut baik KPU. Maklum, penyandang disabilitas seringkali tidak tersentuh sosialisasi.

“Saat itu sudah ditawarkan juga agar rekan disabilitas lainnya ikut serta. Saat itu, saya sudah coba menghubungi teman lain untuk ikut. Tapi, tidak ada yang mengangkat telepon saya. Jadi, hanya saya saja yang akhirnya mendaftar jadi relawan,” terangnya. meski kemudian, sosialisasi pada penyandang disabilitas, ia dibantu dua relawan lain.

Sebelum memulai tugas sebagai Relasi, Denny wajib mengikuti bimbingan teknis (bimtek). Dengan bekal tersebut, Denny semakin lincah memberikan pemahaman pada pemilih. Tantangannya tidak mudah. Ia harus meng-cover hampir seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan. Apalagi, tidak semua disabilitas yang mudah diajak berkomunikasi.

“Selain biasanya lebih memilih bekerja, penyandang disabilitas ini agak sulit jika kumpul bareng. Contohnya untuk tunanetra. Paling tidak harus ada pendamping. Jadi, butuh biaya tambahan untuk menemui mereka,” terangnya.

Sosialisasi dari pintu ke pintu menurutnya memang paling efektif. Meski harus meluangkan lebih banyak waktu dan ongkos. Tak hanya itu, ia juga memanfaatkan pertemuan yang digelar disabilitas. Misalnya, rapat kerja Ikatan Tunanetra Indonesia (ITNI) Pasuruan, 24 Februari mendatang. Denny akan memanfaatkan momen tersebut juga agar teman disabilitas lain mau mencoblos.

Meski tidak semua disabilitas bisa diajak diskusi, namun ia tetap optimistis jika disabilitas ingin berperan dalam pemilu. Tidak sedikit dari mereka yang senang ketika didatangi. Dalam interaksinya dengan sesama penyandang disabilitas, aspirasi yang disampaikan beragam.

Salah satunya, mereka mengeluhkan fasilitas pencoblosan untuk kaum disabilitas. “Karena sebelumnya cenderung tidak ada fasilitas memadai untuk memilih. Misalnya fasilitas braile, tempat yang tidak ramah disabilitas, atau petugas TPS yang kurang cakap dalam memandu penyandang disabilitas,” terangnya.

Denny berharap, rekan-rekannya punya kepedulian yang sama agar berpartisipasi dalam Pemilu. “Kita juga ingin memberikan suara. Agar nantinya siapapun yang terpilih, semakin memperhatikan kepentingan mereka,” jelasnya. Disabilitas, menurut Denny, adalah aset luar bisa bagi Indonesia. (rf)