Anak Meninggal saat Sekolah, Warga Kraksaan Ini Polisikan STM Dharsis-RSUD

KRAKSAAN – Fajar Candra Hasan, warga Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, melaporkan STM Dharma Siswa (Dharsis) dan RSUD Waluyo Jati ke Polsek Kraksaan, Senin (18/2). Pelaporan itu berkaitan dengan meninggalnya Leo Alam Surgawi, 16, sang anak, Sabtu (16/2).

Fajar –sapaan akrabnya – mengatakan, banyak kejanggalan atas peristiwa meninggalnya sang anak saat itu. “Saya dihubungi oleh temannya sekitar pukul 13.00. Katanya anak saya meninggal dunia dan ada di rumah sakit. Setelah dapat informasi tersebut, saya langsung ke rumah sakit,” ujarnya.

Shock bercampur sedih. Ia tak menyangka anak sulungnya mengembuskan napas terakhir tanpa didampingi olehnya. Saat tiba di rumah sakit, ia melihat anaknya sudah terbujur kaku. Leo masih mengenakan seragam lengkap.

Fajar mengaku tidak mendapat penjelasan apapun mengenai penyebab kematian anaknya. Baik dari pihak sekolah maupun rumah sakit. “Sudah saya tanya, tetapi tidak dijawab meninggalnya karena apa,” katanya.

Ia mengakui, sang anak memiliki kelainan jantung. Namun, saat berangkat sekolah, Leo dalam kondisi sehat. Ia mendapat informasi jika sang anak sekitar pukul 10.00 keluar keringat dengan jumlah banyak. Namun, tak ada tindakan apa-apa dari guru maupun pihak sekolah.

Kejanggalan selanjutnya, menurut Leo, sebelumnya ada mobil jenazah di depan UGD. Tetapi, mobil yang kabarnya untuk mengangkut jenazah anaknya itu tiba-tiba tidak ada. Sang anak kemudian dibawa menuju ruang belakang. Fajar pun mengikuti kemana petugas membawa jasad anaknya.

“Dan selama proses itu, saya tidak diajak berkomunikasi,” katanya. Sampai di ruang belakang, sudah menunggu mobil jenazah yang tadi ada di depan UGD. Ia melihat kejanggalan itu sebagai upaya menutup-nutupi penyebab kematian anaknya. Tak hanya itu, saat jenazah pulang, ia tak mendapat berkas apa pun.

“Ketika saya tanyakan soal visum, pihak rumah sakit bilang ada penolakan. Jangankan menolak, diajak berembuk saja tidak,” ujar Fajar. Karena alasan itulah, Fajar memutuskan melaporkan pihak sekolah dan rumah sakit ke polisi. Ia ingin mendapat penjelasan utuh mengenai penyebab kematian sang anak.

Kapolsek Kraksaan Kompol Jako Yuwono tidak memberikan jawaban pasti perihal pelaporan itu. “Saya di luar, hubungi Kanit ya,” kata Joko. Sementara, Kanitreskrim Polsek Kraksaan Iptu Slamet juga setali tiga uang. “Saya pulang kampung, ke piket jaga saja,” katanya.

 

Kronologi Versi Sekolah

Sementara itu, Kepala STM Dharma Siswa Surahman menjelaskan kronologi kejadian versi dirinya. Saat jam pulang sekolah, Leo berpapasan dengan sekuriti sekolah. “Anak itu pulang terakhir. Saat itu, dia ketemu satpam dan dua kakak kelasnya di parkiran,” terangnya.

Saat itu, Leo mengeluh dadanya sakit kepada kakak kelasnya. “Kak dada saya sakit. Tolong bilangkan pada Pak Guru,” katanya menirukan perkataan Leo.

Sebelum disampaikan ke guru, Leo ambruk terlebih dahulu. Pihak sekolah langsung gerak cepat dengan membawa Leo ke rumah sakit menggunakan mobil yayasan.

“Kami tidak tahu. Meninggalnya itu di jalan atau di rumah sakit. Yang jelas, tiba di rumah sakit sudah meninggal,” jelas Surahman. Pihak sekolah sudah mengetahui riwayat penyakit korban. Karena itulah, Leo mendapat dispensasi.

Surahman mengaku, pihaknya sudah dua kali takziah ke rumah korban. “Pertama ke sana, tetapi tidak bicara dengan orang tua karena kondisinya shock. Tetapi, kami berkomunikasi dengan keluarga yang lain di luar. Yang ke dua, Senin lalu itu semuanya kami ajak ke rumah korban,” jelasnya.

Pada saat takziah yang pertama, Surahman mengaku bersama anggota polisi. Karena, ia yakin jika sekolah akan diperkarakan. Ternyata benar, orang tua korban melaporkan sekolah. Ia mengaku siap saja jika orang tua korban melapor ke polisi. “Jadi kalau dituntut, saya siap nuntut balik,” tegasnya.

Terpisah, Humas RSUD Waluyo Jati Kraksaan Sugianto menjelaskan, Leo sempat dirawat. “Rasanya sempat dirawat di rumah sakit saat itu,” katanya.

Saat ditanya terkait visum, Sugiato menjawab tidak mengerti soal itu. Sebab, sesuai prosedur, pengambilan visum tersebut harus ada surat permintaan dari kepolisian yang disetujui keluarga korban. “Baru kemudian kami lakukan visum. Tapi, sampai saat ini tidak ada permintaan visum pada kami,” katanya. (sid/rf)