Bawaslu Intens Pelototi Akun Sosmed PNS-Perangkat

KRAKSAAN – Adanya Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Perangkat Desa yang berfoto menggunakan pakaian beratribut parpol, membuat Bawaslu Kabupaten Probolinggo kini mengambil langkah. Salah satunya, Bawaslu kini getol mengawasi sosial media (Sosmed). Terutama akun milik pegawai negeri sipil maupun perangkat Desa.

Hal itu diungkapkan Ketua Bawaslu setempat Fathul Qorib. Menurutnya, bermula dari kasus ASN dan perangkat desa yang berfoto menggunakan atribut parpol serta di-upload di media sosial, membuat pihaknya tak main-main. Pihaknya, terus melakukan pengawasan terhadap sosmed milik ASN.

“Kami intens melakukan pengawasan itu. Kami awasi, apakah masih ada lagi ASN atau perangkat desa atau yang dibayar oleh negara, yang sembrono dengan meng-upload foto berbaju partai,” ujarnya.

Sampai saat ini, Bawaslu masih belum lagi menemukan hal demikian. “Tidak ada. Hanya dua kasus itu saja yang kami temukan. Setelah itu tidak ada lagi,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Qorib itu menjelaskan, sebenarnya bagi ASN, perangkat desa, Kepala Desa, TNI dan Polri boleh untuk hadir dalam kampanye. Namun, mereka dilarang untuk ikut berkampanye. Sebab, mereka itu dibatasi oleh undang undang.

“Mereka perlu juga untuk mengetahui visi dan misinya. Jadi boleh datang. Tetapi tidak boleh ikut berkampanye. Intinya mereka jadi peserta pasif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, selain terus melakukan upaya pemantauan, Bawaslu juga berupaya untuk melakukan pencegahan. Yaitu berupa melakukan imbauan kepada yang bersangkutan. Sehingga, tidak terjebak kedalam politik praktis.

“Jadi bukan hanya penindakan tetapi juga pencegahan kami lakukan,” terangnya.

Jika ditemukan foto ASN atau yang lainnya yang digaji oleh negara di sosmed beratribut parpol apakah langsung ditindak? Qorib menegaskan, Bawaslu akan melakukan penyelidikan dan pemanggilan yang bersangkutan. Yaitu, dimintai keterangan motif apa yang menyebabkan yang bersangkutan meng-upload dengan konten berbau politik.

“Jadi tidak langsung. Tetapi harus dikaji dulu. Dalam menentukan sebuah temuan itu harus melengkapi syarat formil dan meterilnya. Jika itu terpenuhi maka dianggap temuan. Tetapi jika tidak maka ya belum bisa,” tandasnya. (sid/fun)