Klaim Sampah Rumah Tangga di Kab Probolinggo Menurun Dalam 3 Tahun Terakhir

KRAKSAAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo menyebut jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan per tahun di daerahnya mengalami penurunan. Itu terjadi sejak tiga tahun terakhir. Salah satu penyebabnya lantaran semakin sadarnya masyarakat terhadap pengendalian maupun pengelolaan sampah.

Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, 2016 jumlah sampah rumah tangga yang ada di 74 Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) 50,20 ton per hari. Namun di tahun 2017, angka tersebut sedikit menurun menjadi 49, 13 ton per hari. Sedangkan pada 2018, penurunan cukup pesat yaitu menjadi sekitar 44,74 Ton per hari. Artinya, ada penuruan sekitar empat ton per harinya.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Sentot Triadi Sugiharto mengatakan, sebenarnya jumlah sampah yang dihasilkan per harinya cenderung fluktuatif. Namun, jika dilihat pada data yang ia kumpulkan per harinya tiga tahun terakhir, mengalami penurunan.

“Jadi memang berdasarkan angka yang kami catat per harinya,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Pria yang akrab disapa Sentot itu menjelaskan, faktor yang mempengaruhi jumlah sampah tersebut juga dari bencana alam. Saat terjadi bencana alam seperti puting beliung mengakibatkan sampah. “Contohnya pohon tumbang. Juga sisa sisa rumah warga yang terdampak,” terangnya.

Sedangkan faktor pengurangan, lanjut Sentot, lantaran masyarakat yang mulai sadar akan sampah. Yaitu, mereka memilah sampah yang masih bisa didaur ulang dan tidak. Nah, untuk yang tidak bisa didaur ulang itulah yang oleh masyarakat dibuang sampai ke TPS.

“Untuk itu, kami selalu mengimbau kepada masyarakat akan pentingnya mengelola sampah. Jika dibiarkan maka akan berdampak pada kesehatan lingkungan dan juga warga. Karenanya terus kami sosialisasikan,” tuturnya.

Peran dari pada bank sampah juga turut menyumbang. Dari 18 bank sampah yang ada di Kabupaten Probolinggo, dinilai membawa dampak besar. Selama ada bank sampah, jumlah sampah bisa berkurang.

“Semuanya aktif. Tetapi yang dihasilkan sementara ini hanya sebagai kerajinan. Sedangkan yang organik tidak dimanfaatkan karena tidak ada pengolahan kompos. Bank sampah berperan juga untuk menurunkan sampai yang dihasilkan per harinya,” ungkap kabid pengelolaan sampah itu. (sid/fun)