Melihat Geliat Budi Daya Lele di Desa Winong yang Kini Semakin Bertumbuhan

Mayoritas ekonomi warga di Desa Winong, bergantung pada pertanian dan industri. Dalam beberapa tahun terakhir, kini banyak warga menekuni budi daya Lele. Dari yang awalnya hanya sebagai tambahan penghasilan, kini budi daya menjadi mata pencaharian utama.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol

Budi daya lele ini banyak ditemui di dua dusun, yakni di Dliring dan Mranggeng. Sejatinya, budi daya lele ini sudah ada, sejak lima tahun lalu. Dalam dua tahun terakhir, jumlahnya semakin banyak.

“Dahulu hanya segelintir saja pembudi daya lele. Kini meningkat hingga puluhan orang,” terang Kades Winong Suyanto.

Dalam perjalanannya, budi daya ini berkembang menjadi usaha atau bisnis yang menjanjikan. Karena memang menghasilkan dan keuntungannya pun jelas. Tak heran, jika usaha di bidang ini terus berkembang.

Adapun lokasi tempat budi daya lele itu sendiri, warga atau pelaku usaha memanfaatkan lahan pekarangan rumah masing-masing. Umumnya warga membuat kolam dari terpal. Satu pekarangan minimal 2-3 kolam, bahkan lebih.

“Karena perawatannya mudah dan pakannya tidak susah, usaha ini diminati. Yang terpenting telaten dan memperhatikan sirkulasi air kolam. Masa panennya pun cepat, hanya butuh waktu hanya 2-3 bulan saja,” jelasnya.

Kian menggeliatnya budi daya lele ini juga tak lepas dari perhatian dan peran serta pemdes setempat. Di antaranya melibatkan BUMDEs dalam pembinaan sekaligus bantuan modal. Pemdes juga mengupayakan pelatihan dengan menggandeng instansi terkait, bahkan ikut membantu pemasarannya pula.

“Usaha ini jika ditelateni dan digarap serius, maka sangat menghasilkan dan menjanjikan. Tentunya pemdes tetap beri atensi sekaligus perhatian dilapangan. Karena saat panen, ikan lelenya terjual laris dibeli tengkulak ataupun lesehan-lesehan di sekitaran Gempol,” tuturnya. (fun)