Telantar di Pontianak karena Sakit, Warga Maron Ini Akhirnya Pulang

Jumari, 31, warga Desa Brabe, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, akhirnya bisa bernapas lega. Kamis (21/2) ia menjejakkan kembali kakinya di kampung halaman, setelah sebelumnya terlunta-lunta dalam kondisi sakit parah di tengah perantauannya di Pontianak, Kalimantan Barat.

 MUKHAMAD ROSYIDI, Maron

RUMAH bercat hijau kombinasi putih di Desa Brabe, Kecamatan Maron itu mendadak riuh, Kamis (21/2). Rumah yang berada di tengah kebun itu didatangi sejumlah kerabat dan tetangga. Mereka menyemut hingga luar rumah. Dalam pembicaraan sejumlah orang, mereka menyebut satu nama. Yakni, Jumari.

Jumari saat itu memang menjadi buah bibir lantaran berhasil pulang dari perantauannya dari tanah Borneo. Betapa tidak, hasratnya memperbaiki kondisi ekonomi dengan mencari pekerjaan ke Pontianak, justru berakhir pilu. Ia mendadak diserang penyakit aneh.

Kondisi Jumari yang sakit parah sempat mewarnai media sosial. Itu sebabnya, ketika Jumari berhasil pulang, banyak warga yang mendatangi kediamannya. Tiba di rumahnya, Jumari ditempatkan di ruang tamu. Ia diberi sebuah tempat tidur yang dilengkapi kasur dan juga selimut.

Meski sudah membaik, namun tubuhnya ringkih. Apalagi kalau bukan karena penyakit yang menggerogotinya. Kulitnya menghitam, berbeda dengan foto yang sempat viral beberapa waktu lalu yang dipenuhi bercak merah. Bercak merah itu sudah berubah menjadi hitam karena mengering.

Tetapi, masih ada dibagian kaki yang belum mengering dan berdarah. Tetapi, itu tidak terlihat karena tertutup oleh celana hitam yang melekat di tubuhnya. “Awalnya ya itu saya mancing. Terus saya merobohkan sebuah pohon yang kering. Pohon itu katanya adalah pohon angker dan dihuni oleh ular,” kata Jumari membuka pembicaraan.

Bicaranya lirih. Kadang, pertanyaan yang disampaikan harian ini dijawab oleh Sami, 59, ibunya. “Ceritanya itu, dia mancing. Setelah itu terserang penyakit,” katanya dengan bahasa Madura. Sami menceritakan, sakit yang diderita oleh anaknya itu tidak wajar. Bahkan, ketika dibawa ke rumah sakit, dokter yang menangani tidak tahu apa penyakitnya.

Hal itu dibenarkan oleh Jumari. Menurutnya, memang tidak ada yang mengetahui penyakitnya itu. Perihal penyakitnya, Jumari menjelaskan, baru terasa ketika empat hari setelah tragedi merobohkan pohon di lokasi pemancingan. Saat itu, sekujur tubuhnya terasa panas seperti terbakar. Setelah itu, muncul bentolan berisi air di sekujur tubuhnya.

“Saya itu tidak tahu kenapa kok tiba-tiba gitu. Kata orang pintar di sana, ya akibat merobohkan pohon angker itu,” katanya. Penyakit yang dideritanya itu hampir tiga pekan ia rasakan. Saat berada di perantauan itu, ia sangat berharap bisa pulang.

“Ingin sekali pulang, tetapi tidak bisa. Untuk yang menanggung pengobatan adalah pihak proyek yang saya ikuti,” terangnya. Dua kali upaya kepulangannya gagal. Pasalnya, ia ditolak oleh pihak pelabuhan dan juga otoritas bandara. Itu, karena badannya menimbulkan bau yang tidak sedap.

“Saya sangat senang sekali akhirnya bisa pulang. Ini, berkat bantuan Lazismu Kabupaten Probolinggo,” katanya. Perihal kelanjutan pengobatannya, Sami menjelaskan, jika sudah ada pihak yang menjamin. Jumari akan rutin berobat ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

Sementara itu, Ketua Lazismu Kabupaten Probolinggo mengatakan, pihaknya berhasil memulangkan Jumari berkat bantuan Lazismu Kalimantan Barat. Saat berada di Bandara Supadio, Jumari mendapat prioritas dari otoritas bandara. “Ada yang ngawal. Jadi, bisa berjalan lancar. Kalau tidak ada yang ngawal, bisa gagal pulang,” katanya.

Pria yang akrab disapa Kung Ridho itu menjelaskan, pesawat yang membawa Jumari bukan jurusan Surabaya. Melainkan jurusan Jogjakarta. Hal itu dikarenakan tiket jurusan Surabaya habis dan baru tersedia Selasa pekan depan.

“Jadi kami jemput di Jogjakarta menggunakan travel. Pemulangan yang bersangkutan sangat cepat hanya sehari semalam. Dari mulai Rabu (20/2) pukul 05.00 pagi berangkat, tiba di Jogjakarta pukul 20.00. Kemudian tiba di Probolinggo pukul 09.00,” terangnya. (rf)