Ibu Meninggal-Ayah Sakit, Bayi asal Kebonagung Alami Gizi Buruk

PASURUAN – Persoalan gizi buruk pada balita masih menjadi ancaman. Tak terkecuali di Kota Pasuruan. Awal tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat telah mencatat ada satu kasus gizi buruk. Kondisi balita penderita gizi buruk itu juga memprihatinkan. Lantaran ibunya telah meninggal dunia.

Plt Kepala Dinkes Kota Pasuruan dr Shierly Marlena menuturkan, pihaknya telah memantau kondisi balita asal Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, yang mengalami gizi buruk itu.

Selama sebulan terakhir, petugas kesehatan juga rutin mendampingi balita tersebut agar tertangani secara medis. “Ibunya meninggal dan ayahnya juga dalam kondisi kurang sehat. Jadi, perawatan selama ini dilakukan oleh kader kesehatan. Setelah itu, dibawa ke Puskesmas Kebonagung. Hasil diagnosis diketahui, penyebab gizi buruknya dikarenakan radang paru-paru atau dalam istilah medisnya pneumonia dan suspect TBC,” kata Shierly.

Shierly menjelaskan, penyakit TBC yang selama ini diderita balita itulah yang menyebabnya berat badannya cenderung turun. Di usianya yang memasuki 14 bulan, kata Shierly, seorang balita seharusnya memiliki berat badan 9 kilogram. Namun, berat badan balita tersebut saat awal pemeriksaan, hanya 5,5 kilogram.

“Kalau gizi buruk karena tbc memang bb-nya sulit bertambah sebelum penyakit tbc-nya terobati. Makanya, kemudian dikonsultasikan ke RSUD agar mendapatkan pengobatan TBC untuk anak. Kami juga memberikan asupan makanan tambahan juga untuk mengatasi gizi buruk yang dialami,” ungkapnya.

Setelah sebulan dalam perawatan medis, balita tersebut kini mulai mengalami peningkatan berat badan. “Berat badannya saat ini 5,7 kilogram. Kondisinya membaik, namun butuh waktu untuk pemulihan. Makanya, harus rawat inap untuk beberapa waktu ke depan agar perawatan kesehatannya juga lebih terjamin,” bebernya.

Shierly juga memastikan, pihaknya telah memfasilitasi balita itu melalui jaminan kesehatan. “Sudah didaftarkan dalam program JKN-KIS agar keluarga tidak terbebani soal biaya,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya memang baru mencatat satu kasus gizi buruk untuk tahun 2019. Pemantauan yang dilakukan Dinkes selama ini mengacu pada data Posyandu di setiap lingkungan. Sedangkan selama 2018, pihaknya mencatat kasus gizi buruk sebanyak 30 kasus.

“Semuanya sudah tertangani dengan baik. Namun, dalam kasus ini memang belum termonitor sejak awal karena ibunya dalam kondisi sakit sebelum meninggal. Makanya, selama ini belum pernah Posyandu,” ungkapnya. (tom/rf)