Ini Keluhan Kelurahan yang Disampaikan ke Wawali Probolinggo

MAYANGAN – Jumlah perangkat yang tidak memadai dan minimnya SDM yang memahami teknologi, menjadi keluhan kelurahan di Kota Probolinggo. Keluhan itu pun disampaikan ke Wali Wali Kota Moch. Soufis Subri, beberapa waktu lalu.

Seperti diungkapkan Wahyu, lurah Sumbertaman saat pertemuan antara lurah dan camat dengan Wakil Wali Kota, beberapa waktu lalu. Menurutnya, penting kelurahan mendapatkan tambahan sumber daya manusia (SDM) serta sarana prasarana untuk mendukung pelayanan kepada warga.

“SDM di kelurahan perlu ditambah, Pak. Di Kelurahan Sumbertaman hanya ada delapan personel termasuk lurah. Ada juga pegawai tidak tetap (PTT),” ujarnya.

Minimnya SDM ini membuat pihak kelurahan bingung membagi tugas. Bahkan, tenaga operator kelurahan merupakan staf yang sudah berusia 50 tahun.

“Jangan sering-sering dilakukan mutasi di kelurahan. Jika pun ada mutasi, mohon segera diisi kembali. Kalau sampai kosong, dampaknya tugas-tugas di kelurahan akan terbengkalai,” katanya.

Selain SDM, Wahyu juga mengeluhkan sarana dan prasarana kelurahan. “Kami yang ada di kelurahan ini iri dengan OPD. OPD bisa membeli komputer dengan standar intel Core Duo. Sedangkan di kelurahan hanya pentium 3, pentium 4,” ujarnya.

Diceritakan Wahyu, pernah pegawai Diskominfo melakukan evaluasi program di kantor kelurahan. “Saat itu, monitor sudah buram, operatornya sudah tua, komputer tua, ndak bisa apa-apa lagi,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Subri –panggilannya- menyampaikan kepada camat dan lurah harus ada perubahan paradigma bahwa kelurahan itu bukan tempat yang biasa-biasa saja. “Kelurahan akan dibebani dana kelurahan sebesar Rp 1 miliar. Itu adalah tantangan bagi kelurahan-kelurahan di Kota Probolinggo,” ujarnya.

Subri memastikan, untuk menghadapi tantangan ini, pemerintah tidak hanya memberi tekanan. Namun, SDM dan sarpras yang memadai untuk mendukung pengelolaan anggaran tersebut. “Insya Allah, jangan khawatir masih proses. Wali Kota ada atensi pada kondisi SDM di kelurahan,” ujarnya.

Mengenai kemampuan SDM, Subri melihat hal ini bukan persoalan SDM tersebut tua atau tidak. Namun, mau atau tidak untuk belajar teknologi.

“Pertanyaannya, sanggupkah staf kelurahan di-upgrade atau diinstal ulang. Staf usia 50 tahun atau 1 tahun menjelang pensiun tidak masalah. Asalkan mau belajar. TI adalah ilmu katon,” ujarnya. (put/hn)