Inilah Santriwati MTs KH. Wahid Hasyim Bangil Juarai Lomba Lukis Nasional dan Internasional

Prestasi gemilang berhasil diraih santri MTs KHA. Wahid Hasyim, Bangil, dalam hal seni lukis. Mereka berhasil meraih juara pertama dan ketiga, dalam karya lukis berbeda. Menariknya, salah satu yang dimenangi, adalah tingkat internasional.

IWAN ANDRIK, Bangil

Gadis berhijab itu, benar-benar tak menyangka, karyanya bisa menjadi juara. Maklum, ia baru sekali mengikuti lomba, seni kaligrafi arsir. Apalagi, juara yang diraihnya, adalah juara pertama tingkat nasional.

Hasil lukisan kaligrafi yang dinyatakan sebagai pemenang. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Saat ditemui Radar Bromo di ponpes MTs KHA Wahid Hasyim Bangil, gadis bernama Nisrina Aniq Alfiah, itu berulang mengucap syukur. Ia benar-benar merasa bahagia, dengan apa yang diraihnya.

“Saya tidak menyangka, kalau juara. Karena lomba kaligrafi arsir itu, baru pertama kali saya ikuti,” ungkap.

Menurut Nisrina, lomba tersebut berlangsung 18 November 2018 lalu. Sebelumnya, ia diminta oleh pihak sekolah, untuk membuat sebuah karya. Karena kebetulan, ada lomba kaligrafi arsir yang diselenggarakan secara online.

Penyelenggaranya adalah Rafaiz, lembaga yang bergerak di bidang seni, di Bekasi, Jawa Barat. “Ketentuannya, untuk usia 10 tahun hingga 15 tahun. Saya daftar dengan cara mengirimkan karya,” jelas dia.

Ia mengirimkan karyanya, berupa lafadz Muhammad, yang dilukis dengan diarsir. Waktu pembuatannya, memang dikebutnya. Hanya sehari, sebelum batas waktu pengiriman lomba.

Saat melukis kaligrafi tersebut, ia sempat dibuat “pusing”. Maklum, beberapa kali gambar yang dibuatnya kurang sesuai. Selain garis-garis yang salah, juga corak arsirannya yang kurang menawan. “Beberapa kali salah. Selain kurang tebal, gambarnya juga jelek. Akhirnya, terus diperbaiki hingga bagus,” imbuhnya.

Usai dianggap sesuai, ia yang dibantu Siti Asiyah guru ekstrakurikulernya kemudian memfoto karyanya tersebut. Selanjutnya, ia mengirimkannya secara online. Hingga sebulan lamanya, pengumuman itu baru muncul.

Semula, ia merasa biasa. Karena, ia yakin, karyanya tidak akan menang. Mengingat, lomba tersebut bakal diikuti banyak peserta se Indonesia. Namun, ia tak menyangka, hasil karyanya diumumkan sebagai pemenang.

“Kami dapat informasinya Desember. Senang dan tentunya tidak menyangka hasil karya saya menang, juara pertama,” katamya saat itu yang menyebut lomba kaligrafi itu, digelar dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bukan hanya lomba kaligrafi arsir yang membawa santri MTs KHA Wahid Hasyim Bangil bersinar. Karena, nama MTs KHA Wahid Hasyim juga moncer setelah memenangi kompetisi lukis tingkat internasional. Itu setelah lembaga setempat, memenangi juara tiga, kategori pengirim lukisan terbanyak.

Guru Pembina Seni Rupa MTs KHA Wahid Hasyim Bangil, Lail Lafi Illiyun mengungkapkan, lomba tersebut digelar Agustus 2018 kemarin. Penyelenggaranya adalah perusahaan ternama asal Jepang, Kao Corporation. Pesertanya, tentu tidak hanya Indonesia. Tetapi ada negara-negara lain yang berpartisipasi. Tak kurang dari 41 negara yang menjadi peserta.

“Ada beberapa kategori. Temanya, lomba lukis lingkungan yang diselenggarakan secara internasional,” kata Lail. Ia menguraikan, memompa semangat anak asuhnya untuk membuat karya. Tak mudah memang. Apalagi, dengan banyaknya santri yang harus membuat karya.

Butuh waktu berjam-jam lamanya. Hingga para santriwati tersebut, berhasil membuat masing-masing satu karya. Total, ada 524 karya yang berhasil diciptakan santriwatinya.

Karya-karya tersebut, kemudian dikirim ke perwakilan Kao di Indonesia. Beberapa karya, bahkan ditampilkan ke Tokyo. Hingga Januari 2019 kemudian. Pihaknya mendapat informasi, kalau MTs KHA Wahid Hasyim Bangil, berhasil menjadi juara ketiga, untuk kategori pengirim karya terbanyak.

“Kami sangat senang dengan prestasi tersebut,” tambahnya yang mengaku Jumat (22/2), hendak ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari Kao di Jakarta.

Ketua Yayasan Ponpes KHA Wahid Hasyim Bangil, Ahmad Wildan mengungkapkan, prestasi tersebut jelas membanggakan. Ini membuktikan, kalau di dalam pondok pesantren, santriwati bisa berkarya. Bahkan, bisa meraih prestasi dari karya yang dibuatnya.

Apalagi, prestasi yang didapatkan, tidak hanya sekala lokal, kedaerahan. Tetapi nasional, bahkan sampai internasional.

“Ini menjadi bukti, kalau di pondok pesantren, santriwati itu bisa eksis. Bahkan, mereka bisa melek dengan teknologi. Jadi, pandangan santriwati ketinggalan zaman, itu tidak benar,” tandasnya.

Gus Wildan-sapaannya menegaskan, bakal terus mendorong santriwatinya untuk terus berkarya. Sehingga, santriwati ponpes, bisa bersaing dengan lembaga pendidikan pada umumnya. “Kami mewadahi santriwati di sini. Ada beberapa ekstrakurikuler yang ditawarkan. Mulai lukis, tata boga dan berbagai ekstralainnya. Tujuannya tak lain untuk pengembangan keterampilan serta prestasi santriwati,” tutupnya. (rf)