Hari ini Setiyono-Dwi Fitri Nurcahyo dan Wahyu Jalani Sidang Perdana

BAKAL DISIDANG: Setiyono (kanan) ketika menjadi saksi dalam kasus terdakwa M Baqir di PN Tipikor. Hari ini Wali Kota Pasuruan nonaktif itu akan kembali hadir di persidangan untuk menjadi terdakwa. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN – Wali Kota Pasuruan nonaktif, Setiyono akan menjalani sidang perdananya hari ini. Setiyono menjadi terdakwa dalam kasus dugaan penerimaan suap oleh rekanan yang memenangkan proyek PLUT KUMKM milik Pemkot Pasuruan.

JUGA DISIDANG: Dwi Fitri Nurcahyo (kiri) dan Wahyu Tri Hardianto yang rencananya juga disidang hari ini. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Humas PN Tipikor Surabaya, Lufsiana Abdullah menjelaskan, berkas perkara Setiyono memang telah dilimpahkan JPU KPK ke pengadilan pada 18 Februari lalu. “Setelah diregister, kami langsung memprosesnya selama enam hari kerja. Sidang untuk terdakwa Setiyono akan dilaksanakan besok (Senin, 25/2),” katanya Minggu (24/2).

Selain Setiyono, kata Lufsiana, JPU KPK juga melimpahkan berkas perkara untuk terdakwa Dwi Fitri Nurcahyo dan Wahyu Tri Hardiyanto. Pelimpahan berkas perkara itu juga dilakukan dalam waktu yang sama. Karena itu, kedua terdakwa tersebut dipastikan akan duduk di kursi pesakitan hari ini.

“Agendanya sama, karena sidang perdana. Yaitu mendengarkan dakwaan dari JPU. Namun terdakwa Setiyono sidangnya terpisah, sedangkan terdakwa Dwi Fitri dan Wahyu jadi satu,” imbuhnya.

Penelusuran Jawa Pos Radar Bromo pada situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara PN Surabaya, Dwi Fitri Nurcahyo dan Wahyu Tri Hardianto akan menjalani sidang di Ruang Cakra pukul 09.00. Kemudian dilanjutkan dengan sidang Setiyono pukul 09.20.

“Namun itu sebenarnya juga kondisional. Tergantung besok siapa yang hadir lebih dulu di pengadilan, itu yang didahulukan. Namun jadwal sidang memang dimulai pukul 09.00,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Setiyono bersama tiga orang lainnya diamankan KPK, 4 Oktober silam. Dalam kasus tersebut, Setiyono disangka menerima suap melalui orang dekatnya. Kabarnya, bukan hanya proyek PLUT-KUMKM, lembaga antirasuah menduga sejumlah proyek di Kota Pasuruan sudah diatur oleh Setiyono.

Khusus proyek pengembangan PLUT-KUMKM, Setiyono menerima commitment fee sebesar 10 persen dari nilai harga perkiraan sendiri (HPS) yang totalnya Rp 2.297.464.000. Selain itu, juga ada kesepakatan feesatu persen untuk kelompok kerja.

Pemberian suap dilakukan secara bertahap. Pertama, Baqir menyerahkan fee untuk kelompok kerja Rp 20 juta pada 24 Agustus 2018. Itu, diberikan sekaligus tanda jadi. Setelah menetapkan Baqir sebagai pemenang lelang pada 4 September 2018.

Tiga hari berikutnya dia menyerahkan setengah commitment fee untuk Setiyono sebesar lima persen atau kurang lebih Rp 115 juta. Rencananya, setengah commitment fee lainnya bakal diserahkan oleh Baqir apabila uang muka proyek sudah cair.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, proyek yang bersumber dari APBN 2018 tersebut merupakan salah satu proyek yang dibangun dengan anggaran fantastis. Dalam situs LPSE Kota Pasuruan, proyek tersebut dianggarkan dengan nilai pagu Rp 2.297.464.000.

Diketahui, proyek itu sempat gagal lelang pada tahun 2017. Saat itu ada 21 perusahaan konstruksi yang mendaftarkan diri. Dari jumlah tersebut, ada satu perusahaan konstruksi yang mengajukan penawaran, namun tidak memenuhi syarat. Badan Layanan dan Pengadaan (BLP) Kota Pasuruan kemudian mengumumkan berita acara gagal lelang pada 20 Agustus. Sehingga, proyek tersebut di-retender.

Dalam lelang ulang tahun ini, ada 28 rekanan yang ikut tender. Setelah melalui serangkaian lelang, BLP menyatakan CV Mahadhir milik Hud Muhdor sebagai pemenang lelang pada 4 September. Hud Muhdor merupakan ayah Baqir. CV Mahadhir yang beralamat di Desa/Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, itu dinyatakan menang dengan harga negosiasi Rp 2.195.813.000. (tom/fun)