Dua Tahun, Lahan Sawah di Kabupaten Probolinggo Berkurang 130 Hektare

DRINGU – Tiga tahun terakhir, luasan sawah di Kabupaten Probolinggo semakin menyempit. Hal itu, diakibatkan pesatnya pembangunan yang ada di daerah tersebut. Seperti pada 2016 ke 2017 ada sekitar 130 hektare penurunannya.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat, untuk 2016 lahan sawah masih sekitar 37.255 hektare. Jumlah tersebut menurun pada tahun berikutnya yaitu 2017 menjadi 37.125 hektare.

Sayang, untuk 2018 pihak DKPP masih belum berani mengeluarkan data. Alasannya, karena masih proses penghitungan dan masih memerlukan persetujuan instansi lain.

Ahmad Hasyim Asyari, Kepala DKPP menjelaskan, penurunan tersebut terjadi karena banyaknya pembangunan. Yaitu, mulai dari pembangunan tol dan juga perumahan. Sehingga, harus merelakan lahan sawah aktif.

“Itulah yang terjadi jika pembangunan pesat. Maka harus mengorbankan salah satunya. Dan untuk pembangunan biasanya yang dikorbankan adalah persawahan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, menurutnya tidak lantas memandang pembangunan sebagai hal negatif. Pasalnya, dari setiap pembangunan itu ada segi positif dan negatifnya. “Negatifnya ya lahan semakin terkikis. Tetapi positifnya yaitu meningkatkan perekonomian dengan pesat. Sebab, dengan adanya jalan tok atau pembangunan yang lain itu akan berdampak pada perekonomian masyarakat,” tandasnya.

Pihaknya menjelaskan, pihaknya lantas mencari cara untuk meningkatkan produksi pertanian didaerahnya. Caranya, yaitu meningkatkan Indek pertanian (IP) dan meningkatkan produksi. Ia mencontohkan, untuk IP yaitu melakukan pertanian beberapa kali dalam setahun.

“Jika padi hanya dua kali maka dilakukan tiga kali. Tetapi, saat ini masih dilakukan pembahasan perihal hal itu. Sebab, bukan hanya di Probolinggo saja, tetapi juga didaerah lain juga ada. Makanya di Provinsi masi dibahas,” tuturnya. (sid/fun)