Eks Plt Kadis PU-Staf Kelurahan Didakwa Dakwaan Alternatif

SIDOARJO – Selain membacakan dakwaan untuk Setiyono, JPU KPK juga membacakan dakwaan untuk Dwi Fitri Nurcahyo (mantan asisten yang juga plt kepala dinas PU) dan Wahyu Tri Hardianto (staf kelurahan, orang kepercayaan Dwi). Ketiga terdakwa dipertemukan di ruang sidang yang sama.

Hanya saja, JPU KPK mendakwa Dwi Fitri Nurcahyo dan Wahyu Tri Hardianto dengan dakwaan alternatif. Materi dakwaan untuk kedua terdakwa yang terkena OTT KPK itu pun sama dengan yang disampaikan untuk terdakwa Setiyono.

Sehingga, majelis hakim meminta JPU KPK membacakannya sekaligus. Hal itu juga dimaksudkan untuk mempersingkat waktu lantaran pihak penasihat hukum juga telah menerima salinan surat dakwaan.

“Kalau memang materinya sama, langsung dibacakan pokok dakwaannya saja. Untuk mempercepat. Toh penasihat hukum sama-sama memegang salinan,” kata Wayan menengahi. Lantaran itu, JPU KPK lantas berhenti membacakan materi dakwaan. Dia kemudian membaca dakwaan untuk kedua terdakwa.

Dalam dakwaan pertama, JPU menerapkan Pasal 12 huruf b UU Tipikor jis Pasal 55 ayat 1 ke-1, Pasal 65 KUHP. “Atau kedua, perbuatan terdakwa 1 dan terdakwa 2 merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 11 UU Tipikor jis Pasal 55 ayat 1 ke-1, Pasal 65 KUHP,” kata JPU KPK Ferdinan Adi Nugroho.

Atas dakwaan tersebut, penasihat hukum kedua terdakwa pun sama-sama tak mengajukan eksepsi. Penasihat hukum Dwi Fitri Nurcahyo, Mesak Abbet Neggo Taloim menilai tidak ada persoalan yang perlu dijadikan alasan untuk mengajukan eksepsi.

“Materi hukum yang dibacakan jpu sudah sesuai dengan fakta dan kenyataan yang terjadi. Sehingga, hemat kami tidak perlu eksepsi. Dua hari ini kami akan konsultasi dengan Pak Dwi untuk persiapan sidang pemeriksaan saksi pekan depan,” katanya.

Hal senada juga diutarakan oleh Soetomo, penasihat hukum Wahyu Tri Hardianto menyampaikan alasannya tak mengajukan eksepsi.

“Kami tidak mengajukan eksepsi. Sama. Mengikuti yang lain. Karena ini kan satu rangkaian, kalau seandainya yang satu nggak eksepsi ya kami juga mengikuti tidak eksepsi. Agar jalannya persidangan lebih cepat. Di samping itu, kami juga akan lebih fokus ke pleidoi, berdasarkan fakta persidangan nantinya,” ujar Soetomo. (tom/rf)