Libatkan Masyarakat dalam Pembangunan dengan Gelar Kampung Tematik

PROBOLINGGO – Pemkot Probolinggo terus mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan di wilayahnya. Terutama untuk membangun wilayah perkampungan masyarakat berbasis komunitas.

Upaya ini telah dilakukan dan berjalan di beberapa tempat. Seperti, di Kampung Benteng, Kelurahan/Kecamatan Mayangan serta Kampung Tematik di wilayah Kecamatan Kademangan dan di Kecamatan Wonoasih.

Tahun 2019 ini, Bappeda Litbang Kota Probolinggo Menggelar Lomba Kampung Tematik untuk 29 kelurahan se-Kota Probolinggo. Sosialisasinya, digelar Senin (25/2).

Dalam Sosialisasi Kampung Tematik di Kantor Bappeda Litbang Kota Probolinggo, Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin mengatakan, pelaksanaan pembangunan tidak hanya dilakukan oleh pemkot. Namun, juga perlu diiringi dengan keterlibatan masyarakat. “Perlu kekompakan bersama antara kecamatan, kelurahan, serta dibantu LPM,” ujarnya.

Habib Hadi –sapaan akrab wali kota- mengatakan, pembangunan di Kota Probolinggo perlu dilakukan berbasis komunitas. Menurutnya, kini Kota Probolinggo masih memiliki kendala terkait sanitasi dan kawasan kumuh.

“Untuk mengatasi ini, bukan hanya peran pemerintah, namun juga partisipasi masyarakat untuk menjaga infrastruktur yang telah dibangun pemerintah,” ujarnya.

Kepala Bappeda Litbang Kota Probolinggo Rey Suwigtyo mengatakan, program Kampung Tematik bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan rumah tinggal masyarakat melalui pemberdayaan swadaya masyarakat. “Serta meningkatkan perekonomian lokal dengan menggali potensi ekonomi kemasyarakatan,” ujarnya.

Dalam sosialisasi ini, Bappeda Litbang mengundang Asep S. Lelono dari Kampung Rerere sebagai narasumber. Menurutnya, Kampung Tematik Rerere ditekankan pada partisipasi masyarakat untuk proaktif menciptakan ruang kampung yang memiliki ciri khas.

“Kami membentuk Kampung Rerere karena kebetulan Kampung Kopian Barat bergerak dalam kegiatan daur ulang sampah yang menerapkan 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Karena Kampung 3R kurang menarik, akhirnya jadi Kampung Rerere,” ujarnya. Katanya, kampung ini berdiri karena partisipasi warga. (put/*)