Ada Toko yang Keberatan Jika Plaza Dijadikan Mall Pelayanan Publik

PROBOLINGGO – Rencana pemkot untuk menjadikan Plaza Probolinggo sebagai mal pelayanan publik, masih trus berlanjut. Rencana itu rupanya bakal menemui kendala. Ini, lantaran beberapa toko yang saat ini menempati Plaza Probolinggo ada yang keberatan.

Sejumlah pemilik toko di plasa juga menyayangkan jika nantinya plasa akan diambil alih pemkot. Pasalnya, mereka khawatir lokasinya yang telah bertahun-tahun ditempati, akan dipindah lantaran digunakan untuk mal pelayanan publik.

Ungkapan itu di antaranya dilontarkan Anik, 72, pemilik toko kain Sedulur. Menurutnya, terkait rencana pemkot untuk menjadikan plasa sebagai mal pelayanan publik direspons cukup hangat. Kendati demikian, pihaknya merasa keberatan jika nantinya pemkot menggeser atau memindahkannya. Pasalnya, ia paham betul bagaimana susahnya merintis toko yang sudah berdiri lebih dari 30 tahun itu.

“Meski dibeli atau diganti untung oleh pemerintah, saya keberatan. Soalnya sebelum ada toko-toko di sini, saya yang menempatinya terlebih dahulu. Dan, saya yang merintis ini. Betapa susahnya merintis agar toko kain Sedulur yang pada tahun 1986 pernah terbakar itu kembali dikenal,” terangnya.

Disinggung masalah kepemilikan, Anik mengaku bahwa toko tersebut sudah menjadi hak milik kakaknya. Dokumen dan surat lainnya berada di tangan kakaknya. Dengan demikian, pihak pemkot tidak bisa seenaknya membeli ataupun mengganti rugi begitu saja.

“Surat-suratnya ada ini sudah jadi hak milik. Makanya jika dibeli saya tetap keberatan,” bebernya.

Hal berbeda diungkapkan Edison, 49, pemilik Toko Idola Mode Busana. Menurut pengusaha asal Sumatera tersebut, jika memang nantinya akan ada relokasi, ia tidak keberatan. Lebih lagi jika pemerintah memfasilitasinya untuk mendapatkan stan. Pasalnya lokasi yang saat ini digunakan statusnya nyewa. Dalam setahun pihaknya membayar Rp 25 juta kepada pemilik toko. Selanjutnya, untuk retribusi ke pemerintah kota dalam sebulan, pihaknya membayar Rp 75 ribu untuk dua lantai.

“Saya di sini sudah 12 tahun. Jadi, sepengetahuan saya, pemilik toko ini membeli ke PT Avila. Selanjutnya saya menempati toko ini sewa ke pemilik tersebut,” terangnya.

Pihaknya berharap jika memang nantinya akan diambil alih untuk mal pelayanan publik, lantai satu tetap menjadi area pertokoan. Dengan demikian, maka toko-toko yang sudah ada di bawah, tidak perlu khawatir.

“Untuk lantai dua memang kosong. Jika dibuat mal pelayanan publik, bagus juga. Tapi, untuk yang di lantai satu atau area pertokoan nantinya akan sulit. Sebab, kami di sini sudah lama dan merintis agar dikenal itu tidak mudah,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Penguasaan Plaza Probolinggo oleh PT Avila Prima Indah Makmur sejak tahun 1987, terjadi konflik. Ini, karena PT Avila Prima mengatakan bersikukuh mengantongi surat izin penempatan (SIP). SIP keluar tahun 1987 semasa era Wali Kota Abdul Latif. Di SIP, tidak tercantum batas waktu pengelolaan. Itu yang membuat PT Avila enggan melepas Plaza Probolinggo.

PT Avila sendiri mengaku merugi dalam mengelola plaza. Minat masyarakat terhadap lapak yang dibangun, kurang. Sehingga, banyak lapak tidak laku. Bahkan, lapak dan los di lantai 2, tidak laku dan dibiarkan kosong hingga sekarang. (rpd/fun)