Gugatan Tak Diterima, Nasabah KSU Mitra Perkasa Tagih Tabungan

KANIGARAN – Kesabaran nasabah koperasi Koperasi Serba Usaha (KSU) Mitra Perkasa tampaknya sudah habis. Pasalnya, hingga Kamis (28/2), tak ada kejelasan bagaimana nasib uang mereka. Mereka menuntut agar koperasi segera mengembalikan uang tabungan. Nasabah mengaku tak mau tahu perselisihan antara Ketua KSU Welly Sukarto dengan mantan ketua KSU Zulkifli Chalik.

OGAH BANYAK KOMENTAR: Kuasa hukum KSU Mitra Perkasa saat ditemui usai sidang. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Respons nasabah itu ditunjukkan usai sidang dengan agenda putusan dalam gugatan KSU pada Zulkifli Chalik, Kamis (28/2). Dalam sidang tersebut, majelis hakim yang dipimpin Sylvia Yudhiastika, memutuskan tidak menerima gugatan KSU Mitra Perkasa. Pascasidang, Welly Sukarto langsung meninggalkan ruang sidang.

Usai sidang, nasabah koperasi langsung mengerubungi Putut Gunawarman, kuasa hukum KSU Mitra Perkasa. Mereka meminta koperasi bertanggung jawab. “Terus bagaimana, Pak? Kita terus dijanjikan pihak koperasi. Tanggung jawabnya mana?” kata Supi’i, salah satu nasabah pada Putut Gunawarman.

Nasabah asal Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu tidak habis pikir dengan sikap manajemen koperasi. Seharusnya, koperasi tidak menyeret nasabah dalam perseteruan antara koperasi dengan Zulkifli. Pasalnya, selama ini mereka menabung pada koperasi. Supi’i yang punya tabungan Rp 1,5 miliar itu heran dengan sikap koperasi yang terkesan lari dari tanggung jawab.

Lantaran tak ada kejelasan, puluhan nasabah hendak ngelurug rumah Welly Sukarto. Hanya saja, rencana tersebut urung dilakukan. Para nasabah berencana untuk mendiskusikan persoalan ini sebelum mengambil langkah. Termasuk kemungkinan melaporkan Welly Sukarto ke polisi.

Hal senada disampaikan SR, nasabah lainnya yang punya simpanan Rp 5 miliar. Nasabah yang meminta namanya tidak disebutkan ini meminta pihak koperasi tidak lagi berkelit.

“Saya berharap Pak Welly mengembalikan uang kita. Jika tidak, kita akan berupaya lewat jalur hukum juga dengan melaporkannya ke polisi,” terangnya. Nasabah itu mengaku sudah lelah dengan berbagai alasan yang disampaikan pihak koperasi. Padahal, SR mengumpulkan duit miliaran itu dari hasil menjual tanah.

Menyikapi hal itu, Putut Gunawarman tidak memberikan berkomentar apa-apa. Ia tetap beralasan jika uang koperasi dipinjam Zulkifli Chalik. Terkait rencana nasabah yang akan melaporkan kliennya ke polisi, Putut mempersilakan. “Ya monggo. Itu hak nasabah. Kami tidak melarang,” jelasnya.

Terkait hasil putusan hakim yang tidak menerima gugatannya, Putut mengatakan masih mengevaluasi hasil sidang. Karena itu, ia belum bisa mengambil kesimpulan, apakah pihaknya akan melakukan upaya banding atau tidak. “Kami belum bisa menentukan banding atau tidak. Kami masih akan berkoordinasi,” katanya.

Terpisah, kuasa hukum Zulkifli Chalik, Abdul Wahab Adinegoro mengaku menerima putusan tersebut meski tidak puas. Menurut Wahab –sapaan akrabnya–, seharusnya hakim juga mempertimbangkan soal kelebihan uang Zulkifli di koperasi senilai Rp 500 juta.

Mengenai upaya hukum yang akan dilakukan, Abdul Wahab mengatakan menunggu langkah yang diambil penggugat. Yang jelas, dalam waktu dekat pihaknya akan mengajukan tuntutan sesuai hasil dan fakta persidangan.

Selain itu, Wahab juga mengaku jika pihaknya punya bukti baru berupa uang Zulkfili yang ada di koperasi senilai Rp 8 miliar. “Nanti akan kita ajukan gugatan terkait uang yang ada di koperasi,” tandasnya.

Perihal nasib nasabah, Wahab sepakat dengan mereka. Menurutnya, koperasi jangan mencari alasan pembenar untuk mengabaikan tanggung jawabnya pada nasabah. “Silakan saja kalau mau banding. Asal, upaya banding tidak dijadikan alasan untuk tidak mencairkan uang nasabah. Kasihan mereka menunggu lama,” katanya. (rpd/rf)