Dari Pengamen Jalanan, Dwi Untoro kini Sukses jadi Perajin Gitar

Dwi Untoro dulunya dikenal sebagai pengamen jalanan. Sampai akhirnya ia berada di titik dimana harus mandiri dalam ekonomi. Karena itulah, berbekal pengetahuan bermusik, Dwi Untoro kemudian menjajaki bisnis di bidang pembuatan gitar. Meski belajar secara otodidak, namun hasil karyanya tembus luar Jawa.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi

RUANG kerja Dwi Untoro lebih mirip disebut gudang. Sejumlah perkakas seperti kayu tampak memenuhi sudut ruangan. Sebuah kayu yang sudah dipola menjadi gitar, diperhatikan secara seksama oleh sesosok pria gondrong yang mengenakan kaus putih dan celana jins pendek.

Pria berambut gondrong itu tak lain adalah Dwi Untoro. Dengan pensil di tangan kanan, ia membuat pola pada sebidang kayu yang akan dipermak menjadi sebuah gitar. Kini, bisnis pembuatan gitar itu menjadi pendapatan utamanya. Karena itulah, Dwi mengaku menekuni degan serius bisnis tersebut.

Sembari menyelesaikan tahapan pembuatan gitar, Dwi melayani pembicaraan harian ini seputar aktivitasnya tersebut. Tak hanya gitar akustik, pria 42 tahun asal Dusun Parelegi, Desa/Kecamatan Purwodadi, ini mengaku juga bisa membuat gitar elektrik.

Awal kali membuat gitar ia lakukan 11 tahun silam atau 2008 lalu. Rumah tempatnya berteduh, sekaligus menjadi tempat baginya menjalankan usaha pembuatan alat musik petik itu. “Dulunya saya pengamen jalanan, karena terdesak ekonomi, akhirnya saya memutuskan jadi perajin gitar di rumah,” ucap pria kelahiran Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Keputusannya jadi perajin gitar kala itu awalnya hanya coba-coba. Karena itu, Dwi mengaku banyak belajar secara otodidak. Meski hanya otodidak, namun basic-nya yang memiliki kemampuan bermusik, menurutnya sangat mendukung.

“Saat itu awalnya mau beli gitar untuk ngamen, karena tidak punya uang akhirnya buat sendiri. Setelah jadi kemudian dibeli teman, dan dari situ diputuskan jadi perajin gitar,” ujar bapak tiga orang anak ini.

Semua gitar produksinya, baik jenis elektrik maupun akustik, dikerjakan secara manual dengan alat bantu mesin pertukangan. Sedangkan untuk bahan bakunya, dari kayu mahoni dan juga polywood. Hal itu disesuaikan dengan permintaan masing-masing pemesan. Termasuk desain, sekaligus bahan lainnya.

Pemasaran hasil kreasinya, menurut Dwi, banyak memanfaatkan jejaring di dunia maya. Terutama memanfaarkan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Ada juga pembeli yang langsung datang ke rumahnya untuk memesan atau membeli gitar bikinannya.

MANUAL: Semua gitar yang buatannya dikerjakan dengan caa manual. Dari Pengamen Jalanan, Dwi Untoro kini Sukses jadi Perajin Gitar

Untuk membuat satu gitar baik akustik maupun elektrik, ia membutuhkan waktu sekitar 1-2 pekan. “Tergantung mood, juga tingkat kesulitannya. Tentunya dari bahan mentah sampai finishing,” ujar suami Yuliati ini. Bagi Dwi, membuat gitar tidak bisa cepat. Ia membutuhkan ketelatenan agar hasilnya bisa maksimal.

Selama menjadi perajin gitar, Dwi mengaku selalu memperbarui referensi gitar melalui internet. Hal ini berguna untuk menyesuaikan dengan selera pasar. Selain di Jawa Timur, pemesan gitar bikinannya dari Bandung, Jogja, Solo, dan Jakarta. Bahkan, tembus pula ke luar pulau, seperti Bali dan Kalimantan.

Rata-rata untuk satu gitar akustik dibanderol sekitar Rp 850 ribu hingga Rp 3 juta. Sedangkan untuk elektrik Rp 2,5 juta saja. “Alhamdulillah sekarang menghasilkan, dapat membiayai keperluan keluarga di rumah,” ujar pria yang akrab disapa Hugip ini. (fun)