Sejenak Bersama Pendamping Korban Kekerasan Anak dan Perempuan yang Libatkan Terapi Hipnotis

Sejak 2017 silam, Pemkot membentuk pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (P2TP2A) yang berlokasi di Jalan Balaikota. P2TP2A ini berfungsi untuk memberikan layanan pendampingan pada korban kekerasan anak dan perempuan di Kota Pasuruan.

FAHRIZAL FIRMANI, Panggungrejo

Sejumlah pria dan wanita tampak berada di sebuah ruangan berukuran 6×8 meter itu. Mereka duduk saling berhadapan satu sama lain. Di tengah-tengah mereka terdapat sebuah meja terbuat dari kayu. Tak lama kemudian, salah seorang pria menyodorkan selembar kertas putih.

PENDAMPINGAN: P2TP2A acapkali juga mendampingi korban kekerasan dalam rumah tangga. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Kertas putih itu bertuliskan jenis-jenis layanan dan pendampingan yang bisa diberikan. Dengan cekatan, salah seorang wanita berhijab itu lantas mengisi lembaran permohonan itu. Sejurus kemudian, kertas itu kembali diberikan pada pria di hadapannya.

Pemandangan ini merupakan bagian layanan yang diberikan oleh P2TP2A Kota Pasuruan. Korban kekerasan anak dan perempuan bisa melapor dan mengadu pada P2TP2A agar diberikan pendampingan untuk menghilangkan rasa trauma yang mereka alami.

Pendamping P2TP2A, Emilys mengungkapkan, korban maupun keluarga korban bisa mengadu melalui dua layanan. Pertama pengaduan langsung dengan mendatangi P2TP2A di Jalan Balaikota setiap senin sampai jumat mulai pukul 08.00 sampai pukul 14.00.

Yang kedua, pengaduan tidak langsung dengan menghubungi nomor hotline P2TP2A. Layanan ini diberikan selama 24 jam setiap hari. Pelapor hanya perlu memberikan identitas berupa nama dan alamat rumah serta peristiwa yang dialaminya.

Mereka diminta mengisi formulir layanan. Layanan yang diberikan berupa layanan medis, medikolegal atau visum, psikososial, bantuan hukum, tokoh agama, reintegrasi atau pemulangan, shelter atau rumah aman serta layanan monitoring dan evaluasi.

“Ada tujuh layanan yang kami berikan. Pelapor boleh meminta layanan apapun dan kami siap memberikan. Pengisian formulir ini hanya sebagai bukti resmi saja. Dikhawatirkan ada pihak yang menggugat atau tidak terima,” jelasnya.

Laporan ini bakal ditindaklanjuti. Ada dua macam yakni melalui jalur litigasi atau jalur hukum dan nonlitigasi atau melalui mediasi dan negosiasi. Penyelesaian melalui jalur nonlitigasi ini biasanya yang termasuk delik aduan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurutnya, P2TP2A pernah menangangi kasus KDRT dengan melibatkan tokoh agama dari majelis ulama Indonesia (MUI). Setelah ditelusuri, korban menikah siri dengan pelaku. Pihaknya lantas meminta petunjuk penyelesaian dari kacamata agama.

“Sempat ditempuh jalur mediasi dahulu agar mereka rujuk kembali. Namun ternyata korban tidak bersedia dan meminta cerai. Akhirnya, tindak lanjut kami penuhi sesuai permintaan dari korban,”terang Emilys.

Irfianto, pendamping lainnya dari P2TP2A menerangkan, pendampingan bakal terus dilakukan sampai laporan tersebut selesai dan korban merasa aman. Sebab, tidak jarang, masalah kekerasan yang dialami membuat psikis korban terganggu.

Gangguan ini bisa terlihat dari gejala umum seperti suka termenung, tiba-tiba berteriak saat terbangun dari tidur. Atau dilihat melalui uji gambar yang dilakukan oleh korban. Misalnya jika korban menggambar pohon yang terpotong, maka ini menunjukkan ada traumatis pada psikis korban.

“Selain itu juga bisa dilihat dengan perubahan emosi dari senang menjadi sedih secara mendadak atau ada keinginan bunuh diri. Maka, korban perlu kami lakukan therapy sampai dia merasa aman dengan lingkungannya,” ungkapnya.

Emilys menyebut P2TP2A bakal melakukan terapi pada korban dengan mereduksi yakni mengurangi gejala dan menghilangkan penyebabnya. Ada tiga tahapan terapi yakni hipnotis, perilaku atau behavior dan afeksi atau menata perasaan.

Caranya dengan mempengaruhi pikirannya dengan mengedukasi secara terus menerus melalui hipnotis atau secara konseling. Tujuannya untuk merubah kepercayaannya. Lalu, mengelola perasaan dan emosinya dengan menunjukkan cara marah yang baik.

Jika, korban bertemu dengan stressor atau orang yang membuatnya tidak nyaman, korban diminta untuk melakukan relaksasi atau mengambil nafas panjang. Serta, merubah perilaku dengan tidak menyerang balik stressor, melainkan lebih baik menghindar.

“Tiga tahapan ini harus dilakukan secara beriringan dan tidak boleh terpisah. Dengan begitu kepercayaan pada dirinya akan kembali muncul seperti sedia kala. Hal ini dilakukan sampai dia merasa nyaman dengan lingkungannya,” pungkas Emilys. (fun)