Ajudan Bupati Demak yang Tewas Sosok Ramah yang Hendak Menikah

Kecelakaan maut di Tol Batang-Semarang KM 349 menyisakan luka mendalam bagi keluarga Febri Dien Terial. Ajudan Bupati Demak Muhammad Natsir tewas dalam kecelakaan maut yang terjadi Minggu (2/3) itu. Impiannya untuk menikah 8 April mendatang, buyar.

FAHRIZAL FIRMANI, Panggungrejo

Suasana duka tampak menyelimuti kediaman Febri Dien Terial di Jalan Sunan Ampel Barat nomor 25, Kelurahan Petamanan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Sejumlah warga dan kerabat almarhum, datang silih berganti untuk bertakziah. Lantunan zikir dan bait-bait doa tidak henti-hentinya dirapalkan.

Pemandangan ini terlihat di kediaman ajudan Bupati Demak itu, Senin (4/3). Keluarga tak menyangka, jika Febri tewas saat menjalankan tugas mendampingi sang bupati.

Endang Ganefa Listyowati, 54, ibu Febri mengungkapkan, anaknya dikenal sebagai sosok ramah dan sangat dekat dengan keluarganya. Setiap libur panjang, Febri selalu menyempatkan diri untuk pulang ke rumah.

Namun, dua bulan terakhir ini, Febri rutin pulang ke rumah untuk menyiapkan pernikahannya dengan Hazhiana Sabrina. Karena itu, ia mengaku terkejut saat mendengar kabar kematian Febri. Pasalnya, 8 April mendatang, seharusnya ia melangsungkan akad nikah dengan pujaan hatinya itu.

“Febri itu kalau sudah pulang ya tidak kemana-mana. Seluruh waktunya dicurahkan untuk kelurarganya. Anak saya ini memang sangat dekat dengan keluarga. Andaipun keluar, pasti ngajak orang tua dan saudaranya,” jelasnya seraya menangis sesenggukan.

Endang menjelaskan, Febri merupakan lulusan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Sumedang, Jawa Barat. Ia mengenyam pendidikan selama empat tahun mulai tahun 2012 dan lulus pada 2016. Usai lulus, Febri sempat menjadi tenaga fungsional di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkot Pasuruan.

Febri mengabdi di lingkungan Pemkot Pasuruan selama enam bulan. Pada pertengahan 2017, Febri dipercaya untuk menjadi ajudan Bupati Demak Muhammad Natsir. Kendati berat hati karena harus jauh dari keluarga, namun kepercayaan ini dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Ia menyebut, tidak memiliki firasat apapun tentang kepergian Febri untuk selamanya. Pertemuan terakhirnya dengan anak ketiga dari empat bersaudara ini terjadi Sabtu (23/2). Saat itu ia tidak merasakan ada gelagat aneh dari perilaku Febri.

Namun, sejak Kamis (21/2), Febri berulang kali menelepon mengabarkan jika dirinya akan pulang. Febri bahkan sempat meminta izin untuk pergi ngopi bersama teman SMA dan IPDN di warung kopi di Kelurahan/Kecamatan Bugulkidul.

“Tidak ada firasat. Cuma waktu nongkrong dengan temannya, saya sempat menelepon agar cepat pulang. Dia bilang ‘bentar, Ma. Ini pertemuan terakhir dengan teman’. Waktu mau kembali ke Demak keesokan harinya, ia memeluk saya lama sekali. Tidak seperti biasanya,” ungkapnya.

Junaidi, 57, ayah Febri menyebut, saat pulang, Febri memenuhi janjinya dengan membawakan oleh-oleh dari Demak. Yakni, jambu merah dan belimbing. Padahal, janji ini sudah disampaikannya sejak tiga bulan silam.

Nah, pada Minggu dini hari (3/3) sekitar pukul 03.00, ia dihubungi oleh pihak RSUD Batang, jika Febri mengalami kecelakaan. Ia pun berangkat bersama dengan calon besan dengan janjian ketemu di tol Waru, Sidoarjo. Namun, selang 15 menit kemudian, dia dihubungi kembali jika Febri sudah meninggal.

“Jujur saya tidak ada firasat. Cuma tidak biasanya, ia pulang membawa oleh-oleh berupa jambu merah dan belimbing. Padahal, janji ini sudah lama. Jambunya sudah habis, namun belimbing dari Febri masih ada di kulkas,” katanya dengan mata sembab.

Untuk diketahui, Febri terlibat kecelakan maut di Tol Batang-Semarang KM 384 Minggu (3/3) dini hari. Sebuah mobil Innova yang ditumpangi oleh rombongan bupati menabrak sebuah truk tronton. Akibatnya, Muhammad Natsir mengalami luka pada bagian kelingking dan pinggang, sementara ajudannya, Febri Dien Terial tewas usai sempat dibawa ke RSUD Batang. (rf)