Rencanakan Naikkan Tiket Retribusi ke Bromo, Segini Besarannya

DRINGU – Dinas Pemuda Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo berencana kembali menaikkan harga tiket masuk kawasan Bromo. Jika sebelumnya tiket masuk yang dipungut pemkab sekitar Rp 7.500, kali ini akan dinaikkan menjadi Rp 10 ribu.

VIA PROBOLINGGO: Suasana di pos TNBTS di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura beberapa waktu lalu. Pemkab Probolinggo berencana menaikkan tiket retribusi Bromo di tahun ini. (Dok. Radar Bromo)

Rencana itu saat ini sedang diproses. Disporaparbud telah melakukan pengajuan kepada bagian hukum pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Saat ini sudah selesai dan diproses di bagian Hukum Kabupaten,” ujar Musa Kasi Destinasi Wisata Disporaparbud.

Rencana menaikan retribusi itu berkaitan dengan target pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten setempat. Kenaikan itu dijadwalkan pada Perubahan APBD nanti, dimana PAD dari retribusi Bromo dinaikkan menjadi Rp 1,7 miliar.

“Kami akan terus menggenjot PAD dari sektor wisata. Apalagi, untuk Bromo itu sangat potensi. Jadi kami akan menargetkan PAD yang besar di destinasi wisata itu,” tuturnya.

Perihal kenaikan retribusi Bromo itu menurutnya tidak masalah bagi para pengunjung. Pasalnya, angka Rp 10 ribu tersebut masih dalam kategori kecil. Baru, jika diatas itu para pengunjung akan mengeluh. “Kalau diatas itu (Rp 10 ribu) mungkin akan bikin wisatawan mengeluh,” tandasnya.

Kenaikan retribusi masuk bromo sendiri berkaitan dengan Peraturan Daerah (perda) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Jasa Usaha. Untuk menaikkan retribusi maka pemkab melakukan perubahan terhadap perda itu.

Nur Holis, salah seorang pengunjung Bromo asal Pasuruan mengaku itu sangat mahal. Sebab, sebagai orang kecil, pihaknya keberatan dengan akan dinaikkannya retribusi tiket tersebut. “Belum lagi nanti kena karcis TNBTS. Kalau jadi, hampir empat puluh ribuan untuk masuk ke Bromo,” terangnya. (sid/fun)