Wow, Retribusi Pajak Air Bawah Tanah Capai Rp 28,9 Miliar, Paling Banyak dari Sektor Ini

PASURUAN – Tingginya perusahaan yang menggunakan air bawah tanah (ABT) di Kabupaten Pasuruan membuat penerimaan pajak dari retribusi ini tercapai cukup tinggi. Dari target yang ditetapkan sebesar Rp 27 Miliar, sampai tutup tahun 2018 lalu tercapai Rp 28,9 Miliar.

Angka itu menunjukkan penerimaan pajak ABT di tahun 2018 cukup bagus. Bahkan karena di pertengahan tahun lalu sudah cukup tinggi. Sehingga pada Perubahan APBD sempat dinaikkan hingga Rp 9 Miliar.

“Target di awal tahun 2018 sejatinya hanya Rp 18 Miliar, tapi melihat potensi masih bisa naik lagi sehingga pada Perubahan APBD lalu meningkat hingga 27 Miliar,” terang Mokhammad Syafi’i, Kabid Pendataan, Penetapan dan Pelaporan Pendapatan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan.

Kendati ada kenaikan target cukup signifikan, penerimaan pajak ABT sampai tutup tahun lalu tetap tercapai. Tercatat melebihi 107,23 dari persen target yang ditentukan.

Syafi’i menjelaskan bahwa pajak ABT diberikan kepada penggunaan air bawah tanah yang banyak dipakai oleh pabrik ataupun perusahaan. Untuk penggunaannya yaitu air tanah yang dibor lebih dari 100 meter. Biasanya air tanah yang dibor ini diperuntukkan untuk kebutuhan proses produksi.

Tingginya penerimaan tahun ini dikatakan lantaran kebutuhan produksi pabrik atau perusahaan untuk penggunaan air bawah tanah cukup tinggi. Termasuk banyaknya perusahaan air minum dalam kemasan dan produksi lainnya yang membutuhan air.

“Tercatat di Kabupaten Pasuruan Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) saja bisa ada 30 perusahaan. Belum lagi perusahaan pengolahan lain yang membutuhkan air untuk produksi. Tercatat untuk ABT ini mencapai 600 wajib pajak untuk support produksi,” terangnya.

Sedangkan untuk pengunaan air bawah tanah untuk rumah tangga yang biasanya hanya di kedalaman 15-30 meter dikatakan tidak dikenakan pajak ABT. ABT ini dikenakan untuk kebutuhan industri karena pengeborannya hingga lebih dari 100 meter. (eka/fun)