Olah TKP Pemerkosaan ABK oleh Ayah Tiri, Tak Temukan Bukti

PURWOREJO – Satreskrim Polres Pasuruan Kota terus menyelidiki kasus pemerkosaan yang menimpa Bunga (bukan nama sebenarnya), Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) asal Kecamatan Purworejo. Korps Bhayangkara ini mengaku masih memburu ayah tiri Bunga sekaligus terlapor, MS.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Ipda Suwondo mengungkapkan, pihaknya terus mendalami tindak pidana asusila tersebut. Senin (4/3), Ipda Suwondo mengaku sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah Bunga.

Hasil olah TKP, polisi tidak menemukan bukti apapun. Maklum, peristiwa perkosaan itu sudah terjadi tiga bulan lalu. Namun, olah TKP tetap diperlukan untuk melengkapi berkas perkara.

“Kami masih mendalaminya. Yang jelas laporan ini sudah kami tindak lanjuti. Olah TKP sudah kami lakukan. Saat ini kami masih menunggu hasil visum korban dari RSUD dr. Soedarsono Kota Pasuruan,” jelasnya.

Suwondo mengaku, pihaknya masih mencari keberadaan MS yang diketahui sudah melarikan diri. Diduga, MS ini kabur ke luar Kota Pasuruan. Keterangan dari MS ini diperlukan untuk mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi.

“Saat ini MS masih berstatus terlapor. Kami memerlukan keterangannya dahulu. Kalau memang cukup bukti, tidak menutup kemungkinan status MS bakal kami naikkan menjadi tersangka. Namun, sementara kami masih mencari keberadaannya,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bunga yang merupakan ABK diketahui tengah mengandung. Usia kandungan penyandang tunagrahita ini sudah tiga bulan. Yang mengejutkan, Bunga hamil akibat perbuatan MS, ayah tirinya. Hingga kemudian, pihak sekolah mendapat informasi perubahan sikap dan perilaku Bunga.

Setelah diselidiki, ternyata Bunga memang hamil. Usut punya usut, pria yang menghamili Bunga tak lain adalah ayah tirinya sendiri. Saat itu, NS, ibu Bunga tak berani melaporkan sang suami ke polisi karena berada di bawah tekanan. Bahkan, atas perintah MS, NS berniat menggugurkan kandungan Bunga. Namun, upaya ini urung usai keluarga Bunga melarangnya.

Sebelumnya, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Pemkot Pasuruan mengantar Bunga untuk memeriksakan kandungannya di Puskesmas Kandangsapi. (riz/rf)