Dua Pasar Direlokasi, Target PAD Pasar di Probolinggo Stagnan

PROBOLINGGO – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Probolinggo dari retribusi pasar tradisional pada 2018 tidak mampu mencapai target. Ditarget Rp 1.634.788.499, sampai akhir tahun tercapai Rp 1.069.685.240.

Salah satu sebabnya, karena dua pasar tradisional sedang direvitalisasi dan belum selesai hingga kini. Seperti disampaikan Kabid Perdagangan pada DKUPP Kota Probolinggo Subagyo.

Dijelaskan Subagyo, PAD retribusi pasar tradisional di Kota Probolinggo diperoleh dari 3 UPT pasar. Yaitu, UPT Pasar Baru yang menaungi 2 UPT pasar lainnya, yaitu UPT pasar Randupangger dan UPT Pasar Kronong.

Kemudian, UPT Pasar Gotong Royong menaungi UPT Pasar Mangunharjo, UPT Pasar Krempyeng dan UPT Pasar Bremi. Selanjutnya UPT Pasar Wonoasih menaungi UPT Pasar Umbul, UPT Pasar Ketapang, UPT Pasar Kedung Asem dan UPT Pasar Jrebeng Lor.

Dan tahun lalu, realisasi PAD dari retribusi pasar tradisional memang tak mencapai target. Karena itu pula, tahun ini PAD dari retribusi pasar tidak dinaikkan. Targetnya sama dengan tahun lalu, yaitu Rp 1.634.788.499.

Apalagi, tahun ini masih ada pasar yang direlokasi. Seperti pasar baru. Meskipun pembangunan secara fisik belum dilakukan, namun pedagang sudah direlokasi ke tempat penampungan sementara atau TPS.

“Memang untuk PAD retribusi pasar pada 2018 belum mencapai target. Kendalanya salah satunya karena ada relokasi pasar. Oleh karena itu pada tahun ini, target retribusi pasar sama seperti tahun sebelumnya,” terangnya.

Selain itu, proses revitalisasi pasar Kronong juga belum selesai. Bahkan, akan dilanjutkan pembangunannya tahun ini.

Relokasi kedua pasar inilah yang membuat penerimaan retribusi berkurang. Sehingga menjadikan pertimbangan DKUPP untuk tidak menaikkan PAD retribusi dari pasar tradisional. (Rpd/hn)