Kembali Berpolemik, Pemkot Probolinggo Review Perjanjian Angkot-Ojol

PROBOLINGGO – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo mereview perjanjian antara angkot dengan ojol (ojek online). Menyusul perselisihan yang kembali terjadi antara sopir angkot Kota Probolinggo yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Angkot Probolinggo (ASAP) dengan taksi online, Jumat (1/3) malam.

Kepala Dishub Kota Probolinggo Sumadi menjelaskan, pihaknya memanggil ASAP dan taksi online, yaitu Grab. Saat itulah, Dishub juga memanggil Ojol. Tujuannya, mereview perjanjian yang telah disepakati secara lisan oleh kedua belah pihak.

Salah satu kesepakatan lisan yang ada yakni, kendaraan berbasis online dilarang mengangkut penumpang di tempat-tempat tertentu. Seperti halte, stasiun, terminal dan pasar. Lalu, kendaraan berbasis online bisa mengangkut penumpang, jika angkutan kota sudah tidak beroperasi.

“Seperti angkot di Wonoasih. Kalau sore hingga malam kan tidak ada. Nah di sana kendaraan berbasis online bisa mengangkut penumpang,” terangnya.

Sumadi menegaskan, pemkot berupaya memberikan solusi bagi kedua pihak. Yaitu, angkutan tradisional dan angkutan berbasis online. Oleh sebab itulah, diterbitkanlah Perwali Nomor 116/2018 tentang larangan sementara angkutan berbasis online. Meskipun diakuinya, belum ada aturan tentang tindakan tersebut.

“Kalau bicara aturan, harus mengacu pada aturan di tasnya. Nah, munculnya Perwali itu sebagai bentuk kepedulian pemerintah,” tegasnya.

Konflik antara angkot dan grab sendiri menurutnya, hanya terjadi karena salah paham. Saat kejadian, pihak taxi online dalam hal ini grab hendak membatalkan orderan penumpang.

“Saat itu ada penumpang yang order melalui aplikasi. Penumpang tersebut berada di stasiun. Lantaran yang memesan berada di stasiun, grab tidak bersedia,” tuturnya.

Namun pembataln aplikasi harus melalui pemesan. Jika yang membatalkan grab, maka secara sistemis pihak grab akan mendapatkan pinalty atau denda. Bahkan bisa jadi putus kemitraan.

“Jadi sopir grab datang ke penumpang tersebut untuk meminta membatalkan order. Waktu ke stasiun itu, grab ketemu supir angkot. Terjadi salah paham. Pihak angkot menganggap grab tidak patuh aturan. Terjadilah cekcok dan adu mulut,” tegasnya.

Karena kondisi itulah, Dishub langsung memanggil taksi online, ojol dan angkot. Pihaknya mereview kembali perjanjian lisan yang telah disepakati. “Dengan demikian, maka kedua belah pihak bisa sama sama memahami,” pungkasnya. (rpd/hn)