Persiapan Mahasiswi Kota Probolinggo Ikuti Pertukaran Pelajar ke Korea

Ajeng Prameswati merasakan kebahagiaan berlipat setelah lolos menjadi salah satu mahasiswi yang mengikuti pertukaran pelajar di Korea. Mahasiswi jurusan Teknik Mesin ini akan berada di negeri ginseng itu hingga Juli mendatang. Tepatnya di Kumoh National Institute of Technology.

RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan

Besi, baja, logam dan sejenisnya memberi sensasi berbeda bagi Ajeng Prameswati. Perempuan asal Jl. Sunan Kalijogo, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini memang menaruh perhatian lebih pada benda-benda tersebut.

Dari ketertarikannya itu, ia lantas memilih jurusan Teknik Mesin saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Yakni. di Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Nopember, Surabaya jurusan Teknik Material dan Metalurgi.

Kebahagiaannya bisa merasala atmosfer Korea semakin berlipat, tatkala sebelum berangkat, ia berkesempatan bertemu dengan Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin, saat deklarasi sekolah gratis. Bahkan, Hadi juga mengapresiasi capaiannya itu.

Hadi Zainal Abidin turut juga mengapresiasi prestasinya. Bahkan pada acara deklarasi sekolah gratis, pemerintah memberikan bantuan secara langsung atas prestasi yang diperoleh Ajeng. Bantuan itu diberikan langsung oleh Hadi Zainal Abidin.

“Saya memilih jurusan teknik mesin di Korea karena padanannya teknik material yang saya ambil di ITS-nya teknik mesin itu. Alasan saya dulu memilih teknik material itu karena selain saya basicnya dulu di SMA itu IPA, saya juga tertarik di bidang pengolahan besi dan baja serta pengolahan sumber daya alam berupa logam. Makanya saya ambil teknik material di ITS Surabaya,” terang anak sulung dari pasangan Luluk Irawati, dan Nurhuda Dodik Hariyono itu.

Secara garis besar perbedaannya di kota dengan di tanah kelahirannya yakni maslah waktu yang selisih dua jam. Selain itu dari segi cuaca di Korea saat ini endak memasuki musim semi. Sehingga temperature sekitar 8-12 derajat celcius.

“Untuk budaya dan kebiasaan disini juga beda. Di sini sangat menghargai waktu. Jadi untuk segala macam kegiatan akan sangat tepat waktu,” bebernya.

Tak hanya itu, untuk kebersihan menurutnya di Korea sangat bersih dan dalam pembuangan. Sampahnyapun sangat terjaga. Masing masing individu harus membuang sampahnya secara terpisah untuk plastik kertas dam sebaga.

“Perilaku warganya juga sangat sopan terhadap yang lebih tua. tapi orang Indonesia lebih ramah dibandingkan disini,” beber perempuan dengan hobi menyanyi itu.

Soal keluarga, Ajeng mengaku sedih. Kendati demikian, jika keberangkatannya ke negeri orang untuk menimba ilmu, maka kesedihan yang dirasakan merupakan hal yang sepadan. “Perasaannya ya sebenernya sedih mas ninggalin orang tua, tapi kalau saya meninggalkan tanah air untuk mendapatkan pengalaman ya mungkin itu sesuatu yang sepadan. Selain itu saya juga senang bisa membanggakan keluarga dan almamater saya di negeri orang,” bebernya.

Untuk menetralisasi rasa kangen yang ada, perempuan penggemar bakso itu mengaku saban hari selalu menghubungi orang tuanya. “Saya tetap berkomunikasi dengan keluarga saya setiap hari Mas. Setidaknya untuk melepas kangen dan berbagi cerita kepada keluarga saya,” ungkapnya.

Meski jurusan yang diambil mayoritas cowok, baginya di sana tantangannya. “Kalau masalah banyak itu, suatu tantangan bagi saya mengingat dari SD-SMA saya di lingkungan yang mayoritas cewek, dan karena di kuliah saya sekarang mayoritas cowok,” katanya. (rf)