Warga Tengger Bakar “Buto Kolo” Simbol Keburukan Jelang Nyepi

TOSARI – Ribuan umat Hindu Tengger di Kecamatan Tosari dan Tutur, memperingati Tawur Kesanga atau Tawur Agung, Rabu (6/3). Perayaan yang digelar dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1941 ini, juga digelar pawai puluhan ogoh-ogoh. Baik di Kecamatan Tosari dan Tutur.

Tahun ini, pawai ogoh-ogoh berlangsung lebih meriah. Selain lebih banyak ogoh-ogoh yang diarak, juga bertepatan dengan tema Tawur Kesanga secara nasional. Yaitu menyukseskan Pemilu 2019.

Irawan, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Pasuruan mengatakan, di tahun 2019 jumlah ogoh-ogoh yang berpartisipasi memang meningkat hampir lipat dua dari tahun lalu.

“Kalau tahun lalu kurang lebih ada 38, di tahun 2019 ini total ada 60 ogoh-ogoh di Tosari dan Tutur,” terangnya. Dari 60 ogoh-ogoh tersebut, 25 ogoh-ogoh diarak di Tosari dan 35 di Tutur. Pusat perayaan di Tosari dilakukan di lapangan Tlogosari, Desa/Kecamatan Tosari.

Sejak pagi, ribuan warga sekitar, juga turis lokal dan mancanegara, sudah berkumpul untuk menyaksikan peringatan Tawur Kesanga. Kendati sempat hujan deras, namun tak menyurutkan warga dan wisatawan untuk melihat perayaan tahunan tersebut.

Ogoh-ogoh di Tosari diarak mulai lapangan Tlogosari menuju lapangan Ledogsari dan berakhir di desa masing-masing. Irawan mengatakan, untuk tahun 2019 ini, ada lebih dari 10 ribu warga yang ikut serta dalam pawai ogoh-ogoh. Sedangkan di Tutur dipusatkan di 2 desa yaitu Ngadirejo dan Kayukebek.

Mengingat tema tahun 2019 ini yang berkaitan dengan pemilu, salah satu ogoh-ogoh menggambarkan Buto Kolo sebagai simbol sifat buruk manusia. “Termasuk dalam pemilu, ajakan untuk menjaga NKRI, melawan hoax, dan mengajak warga agar datang ke TPS saat pemilu. Buto kolo sendiri menggambarkan sifat kejahatan, bohong, dan harus dilawan,” terangnya.

Pawai mulai dilaksanakan pukul 13.00. Malam harinya ogoh-ogoh dibakar di rumah masing-masing. Kemudian peringatan Nyepi mulai dilaksanakan sebelum matahari terbit hari ini (7/3). Perayaan Nyepi berlangsung 24 jam sampai matahari terbit kembali.

Abdul Ghoni, Camat Tosari mengatakan, pawai ogoh-ogoh ini merupakan lanjutan dari upacara melasti di lautan pasir. Kemudian digelar Tawur Kesanga atau Tawur Agung. Setelah itu, hari ini diperingati Hari Raya Nyepi.

Peringatan tahun ini menurut Ghoni berjalan cukup baik. Tak hanya menarik minat wisatawan yang datang, juga meningkatkan ekonomi dari masyarakat lokal sendiri. “Kurang lebih ada 900-1.000 PKL dari warga lokal yang berjualan. Sehingga peringatan tahunan ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat,” katanya. (eka/rf)