Pasar Mebel Bukir Urung Direhab Tahun Ini, Pedagang Kecewa

GADINGREJO – Harapan para pedagang di Pasar Mebel Bukir, Kota Pasuruan, untuk melihat kiosnya kembali dibangun belum bisa terwujud. Pemkot Pasuruan memastikan, tahun ini belum bisa memperbaiki pasar yang terbakar pada 2017 tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pasuruan Muallif Arif mengungkapkan, renovasi Pasar Mebel Bukir, paling cepat baru bisa direalisasikan pada 2020. Sebab, tahun ini pihaknya tidak mendapatkan dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunannya.

Ayik -sapaan akrab Muallif Arif- menjelaskan, DAK ini harus diajukan pada tahun sebelumnya. Sejatinya, pihaknya telah mendapatkan DAK untuk pembangunan Pasar Mebel Bukir pada 2018. Itu diperoleh berdasarkan pengajuan pada 2017. Namun, ternyata tidak terealisasi karena gagal lelang.

Sedangkan, tahun kemarin pihaknya mengajukan DAK untuk perbaikan Pasar Kebonagung dan Pasar Karangketug. Pengajuan ini dikabulkan. Pihaknya sempat berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan RI, agar DAK itu dialihkan untuk pembangunan Pasar Mebel Bukir.

Namun, upaya ini tidak bisa dilakukan karena sudah terdaftar. Sehingga, renovasi Pasar Mebel Bukir akan kembali diajukan melalui DAK 2020. Ayik mengatakan, pihaknya mengajukan DAK, karena untuk merenovasi melalui anggaran dalam Perubahan APBD (P-APBD) 2019 dikhawatirkan waktunya tidak cukup.

“Untuk melakukan relokasi sementara pun waktunya juga terlalu mepet. Sebab, kami berencana langsung merehab pada 2020. Makanya kami meminta agar pedagang bersabar,” ujar Ayik.

Adanya kabar ini membuat sejumlah pedagang kecewa. Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Mebel Bukir Kota Pasuruan Lilik Suciati mengatakan, pihaknya kecewa dengan urungnya Pasar Mebel Bukir Kota Pasuruan direhab tahun ini. sebab, 31 pedagang korban kebakaran tidak memiliki tempat untuk meletakkan barang dagangannya.

Menurutnya, kondisi ini seharusnya tidak terjadi jika Pemkot bersungguh-sungguh. Misalnya, dengan memberikan tempat relokasi sementara bagi pedagang selama kios yang terbakar itu belum diperbaiki. Pihaknya juga meminta ada kejelasan tempat untuk berjualan.

“Sudah hampir dua tahun, namun tetap tidak ada kejelasan. Kasihan pedagang kalau begini. Mayoritas terpaksa harus menyewa di lokasi lain yang tidak strategis,” ujar Lilik. (riz/rud)