16 Dompet-Ponsel Dicopet saat Jalan Sehat, Satu Pelaku Dimassa

DIKELER: Adi Cahyono, warga Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan sempat dimassa sebelum kemudian diamankan polisi karena tepergok mencopet. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN – Seorang pencopet yang beraksi saat jalan sehat dalam rangkaian Festival Pendalungan dan Pesta Rakyat Muslimat NU, Jumat (8/3) dimassa. Dari tangan pelaku yang bernama Adi Cahyono, 42, warga Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, itu ditemukan 5 ponsel yang diduga milik peserta jalan sehat.

Aksi pelaku yang memanfaatkan keramaian acara benar-benar membuat warga geram. Setelah dipergoki mencopet, warga tanpa ampun menghajar pria yang tinggal di Dusun Krajan, RT 1/RW 6 tersebut. Pelaku beruntung karena warga kemudian menyerahkannya ke polisi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, peristiwa itu terjadi pukul 06.30 di depan Plaza Probolinggo. Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendi Dwi Susanto mengatakan, Adi ditangkap oleh warga ketika melakukan aksinya. Saat diserahkan polisi, wajahnya sudah memar setelah dihadiahi bogem mentah.

Pelaku oleh polisi lantas dibawa ke Mako Polresta. “Jadi yang menangkap pertama itu warga. Aksinya diketahui oleh warga dan sempat dimassa sebelum dibawa oleh anggota,” terangnya.

Saat diperiksa, ternyata benar. Ditemukan ada lima barang bukti berupa ponsel dari tas pelaku. Itu baru barang bukti saja. Ternyata, tidak hanya 5 orang yang menjadi korban. Hingga Jumat malam, tercatat 16 orang melapor ke polisi karena kehilangan dompet dan ponsel.

“Pada saat kami interogasi, pelaku mengaku hanya mengambil lima barang itu saja. Ia juga mengaku bekerja sendirian. Sehingga, untuk lainnya masih dilakukan penyelidikan. Apakah ada pelaku lainnya atau tidak,” bebernya.

Sementara itu, Muhammad Arifin, siswa SMKN 2 yang menjadi korban mengaku jika ia mulanya tak sadar jadi korban pencurian. Ponsel Xiaomi 6A miliknya saat jalan sehat berlangsung, ia titipkan pada Sumandi Topan. Arifin dan Topan lantas kembali mengikuti pawai.

Saat dilakukan pengambilan kupon di simpang tiga plaza, Topan mengaku jika ponsel Arifin hilang. Saat itu keduanya sadar jadi korban pencopetan. Saat berdesak-desakan, ia sadar ada dua orang yang berada di belakangnya. Keduanya mencurigai dua orang tersebut.

Karena itu, Arifin lantas kembali ke lokasi pengambilan kupon. Ternyata benar. Dua orang itu terlihat di lokasi pengambilan kupon. Pada saat Arifin mendekatinya, ia melihat pelaku kembali melakukan aksinya. Tangan kanan pelaku berebut mengambil kupon, sedangkan tangan kiri masuk ke dalam tas siswa SD yang juga berebut kupon.

Sontak Adi berteriak copet sambil berusaha menahan pelaku agar tidak kabur. Akibat teriakannya itu, pelaku diamankan dan dimassa.

“Yang satu lagi sepertinya temannya. Tapi dia kabur entah kemana,” terang siswa tersebut. Hanya saja, dari HP yang disita sebagai barang bukti, tak satu pun miliknya.

Temannya juga melihat ada anak usia SD yang hendak melakukan aksi pencopetan pada saat peserta berdesak-desakan ambil kupon. Sayangnya, aksi itu gagal dilakukan setelah dipergoki dirinya. Tak hanya itu, ada juga orang yang mencurigakan. Pria memakai gamis panjang dan sarung itu juga ikut berdesakan mengambil kupon.

“Sepertinya pelakunya bukan hanya orang dewasa saja. Tapi, juga anak-anak. Soalnya teman saya melihat ada anak pakaian merah putih, tangannya masuk ke tas orang lain pada saat berdesak-desakan ambil kupon. Selanjutnya di belakang anak itu ada pria bergamis dan bersarung,” katanya. Akibat perbuatan tersebut, pelaku terancam kurungan 5 tahun penjara karena melanggar pasal 362 KUHP. (rpd/rf)