BBM Turun, Deflasi di Kota Probolinggo Capai 0,14 Persen

MAYANGAN – Sepanjang bulan Februari, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat deflasi sebesar 0,14 persen di Kota Probolinggo. Catatan BPS menyebutkan, dari tujuh kelompok pengeluaran, tiga kelompok mengalami deflasi dan empat kelompok mengalami inflasi.

“Salah satu penyebabnya karena penurunan harga BBM untuk Pertamax, Pertalite, dan Dexlite. Tiga BBM ini turun pada 10 Februari,” ujar Moch Machsus, kasie Statistik dan Distribusi, BPS Kota Probolinggo, Jumat (8/3).

Selain disumbang oleh penurunan BBM nonsubsidi, ada sejumlah komoditas yang harganya menurun. Seperti telur ayam ras, daging ayam ras, jeruk.

“Sedangkan untuk beras selama Februari masih mengalami kenaikan. Kenaikannya Rp 100 sampai Rp 200 per kg,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga beras ini tidak terjadi untuk semua jenis beras. Selain itu, saat bulan Februari masih sedikit petani yang melakukan panen.

“Perkiraan Maret sudah banyak petani yang mulai melakukan panen. Harga beras bisa kembali turun,” ujarnya.

Dari tujuh kelompok pengeluaraan, tiga kelompok yang mengalami deflasi antara lain kelompok bahan makanan, kelompok sandang, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi antara lain, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; kelompok kesehatan; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga.

“Dari kelompok pendidikan ini yang naik bukan dari biaya pendidikan seperti SPP, namun dari harga buku, buku tulis,” ujarnya.

Machsus mengungkapkan, jika penerapan SPP gratis di SMA/SMKN berjalan, kemungkinan komponen biaya pendidikan akan turun. Meskipun disisi lain masih ada sekolah swasta yang menerapkan SPP.

“Tapi, kebijakan seperti ini kemungkinan dilakukan setelah tahun ajaran baru,” ujarnya. (put/hn)