Masih 16 Persen Pembudidaya Ikan Ter-Cover Asuransi Nelayan

BANGIL – Tak hanya nelayan yang mendapatkan asuransi. Pembudidaya ikan per tahun ini juga mulai mendapatkan asuransi. Sementara ini masih diberikan kepada 280 pembudidaya, terutama untuk tambak usaha mulai dari udang, nila, patin, dan bandeng.

Slamet Nurhandoyo, kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan mengatakan, asuransi untuk pembudidaya ikan ini memang baru awal diberikan. Untuk kuota sejatinya ada sejak 2018. Namun, baru diberikan kartunya per akhir Januari 2019.

“Untuk kuota asuransi pembudidaya ikan memang baru turun akhir tahun 2018 dan untuk perlindungan sampai akhir tahun 2019 mendatang,” jelasnya.

Berbeda dengan asuransi nelayan yang lebih ke asuransi jiwa. Untuk asuransi pembudidaya ikan adalah untuk tambak. Nantinya jika tambak gagal usaha seperti imbas banjir, tanah longsor, angin puting beliung, maka petambak akan mendapatkan ganti rugi jika kerusakan lebih dari 50 persen.

Sebelumnya, Dinas Perikanan mengajukan sebesar 509 asuransi pembudidaya ikan. “Namun, ternyata yang disetujui baru 280 pembudidaya. Jumlah ini memang kecil. Sebab pembudidaya kita kurang lebih ada 1.700 orang,” terangnya. Sehingga, saat ini masih sekitar 16 persen yang tambaknya terasuransi.

Karena ini merupakan kuota dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk premi digratiskan. Nantinya jika ada kerusakan tambak akibat bencana alam masa pertanggungjawaban bisa sebesar Rp 3 juta per 250 meter persegi per tahun untuk patin dan bandeng. Sedangkan untuk nila bisa sebesar Rp 5 juta per 250 meter persegi.

Slamet mengatakan, asuransi pembudidaya ikan memang cukup penting bagi petambak. Ini, lantaran khususnya di Kabupaten Pasuruan, daerah tambak tak sedikit yang akhirnya gagal panen jika terkena banjir atau air pasang. Harapannya, jika ada asuransi ada ganti rugi jika gagal panen. (eka/fun)