Hasil Panen Padi di Kota Probolinggo Tak Mampu Penuhi Kebutuhan Pangan

PANEN: Seorang petani di Kota Probolinggo, merontokkan padinya yang baru dipanen. Sejauh ini hasil panen padi di Kota Probolinggo, relatif kecil. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN – Hasil pertanian padi di wilayah Kota Probolinggo, ternyata cukup kecil. Bahkan, tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan beras di wilayahnya. Karenanya, kota seribu taman ini juga tak memiliki program resi gudang.

“Di Kota Probolinggo tidak ada program resi gudang. Program ini yang mengadakan Kementerian Pertanian untuk melakukan tunda jual hasil pertanian,” ujar Kabid Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Probolinggo Asep S. Lelono, Jumat (8/3).

Asep menjelaskan, tidak adanya program resi gudang di Kota Probolinggo karena hasil panen pertanian di Kota Probolingo, terutama padi, relatif kecil. Bahkan, tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan warga Kota Probolinggo. “Setiap tahun panen beras hanya kisaran 8.900 ton. Sedangkan, kebutuhan konsumsi beras rata-rata 20.000 ton. Jadi, relatif kecil,” jelasnya.

Kecilnya hasil panen ini membuat tidak bisa dilakukan resi gudang. berbeda dengan wilayah Kabupaten Probolinggo yang produksi panennya cukup tinggi. “Resi gudang ini upaya untuk menunda jual ketika harga beras atau komoditas pertanian lain, seperti jagung turun. Petani bisa tetap menyimpan hasil panennya ketika turun dan yang menjualnya ketika harga naik,” ujarnya.

Meski tidak memiliki program resi gudang, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mendorong warganya memiliki gudang pangan sendiri. Seperti kebiasaan yang dilakukan masyarakat zaman dahulu. “Warga-warga dulu punya gudang pangan sendiri di rumah. Untuk antisipasi jika ada kekeringan atau bencana alam lain,” ujarnya. (put/rud)