Jakaria Sobirin, Pelajar yang Tak Malu Jadi Tukang Buang Sampah Rumah Tangga

Berasal dari keluarga pas-pasan, membuat Jakaria Sobirin harus berusaha lebih keras agar bisa terus sekolah. Demi biaya sekolah dan membantu keluarganya, Jakaria pun menjadi tukang buang sampah rumah tangga di lingkungan rumahnya. Seperti apa?

ARIF MASHUDI, Kanigaran

Jakaria Sobirin, tinggal di RT 4/ RW IV, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Hampir tiap sore, Jaka –panggilannya- keliling di lingkungan rumahnya. Bukan jalan-jalan tentu saja. Namun, singgah ke tiap rumah untuk membuang sampah rumah tangga. Dia keliling menggunakan becak bekas milik orang tuanya.

Bukan tanpa alasan hal ini dilakukan Jaka. Siswa kelas XII SMKN 2 Kota Probolinggo itu, ingin terus sekolah. Dia juga ingin membantu meringankan beban kedua orang tuanya.

Karena itu, Jaka pun menjadi tukang buang sampah rumah tangga, untuk mendapat tambahan uang. Rasa malu, tidak pernah ada di benaknya. Baginya, pekerjaan itu halal. Dan yang paling penting, bisa membantu meringankan beban orang tuanya dengan membiayai sendiri sekolahnya.

Nggak malu, buat apa malu. Ini saya kan niat membantu orang tua. Supaya saya juga bisa sekolah,” kata Jaka.

Siswa kelahiran Probolinggo, 2 Mei 2000 itu menceritakan, dirinya sejak SMP sudah membantu bapaknya, Wasis, membuang sampah rumah tanggal di lingkungannya. Itu adalah sampah rumah tangga yang dibuang di lingkup RT 4 dan 5, RW IV. Tetapi, ada juga warga memilih membuang sampah sendiri ke pekarangan atau lahan kosong. ”Awalnya saya hanya bantu temanin bapak buang sampah,” ujarnya.

Suatu hari saat duduk di bangku kelas X, bapaknya sakit dan tidak bisa bekerja. Sedangkan tugas membuang sampah harus tetap dilakukan. Jika tidak, sampah-sampah itu akan menumpuh di depan rumah warga dan bisa membuat warga kecewa. Demi melaksanakan tugas bapaknya, akhirnya Jaka membuang sendiri sampah-sampah itu.

”Alhamdulillah, meski bapak sudah sehat, saya kemudian tetap membuang sampah-sampah itu. Karena bapak kerja seharian jadi tukang bangunan,” katanya.

Apa yang dilakukannya, menurut Jaka, bertujuan meringankan beban orang tuanya. Di usia sekolah ini, yang biasa dia lakukan hanya membantu membuang sampah rumah tangga yang sudah jadi langganan.

Dari aktivitas ini, tiap bulan dirinya mendapat jasa Rp 20 ribu dari tiap rumah yang sampahnya dibuang. ”Hampir tiap hari atau dua hari sekali saya membuang sampah rumah tangga. Biasanya, tiap sore selepas pulang sekolah. Jika tidak sempat, saya kerjakan pas malam hari. Hasilnya, saya pakai bayar SPP dan lebihnya saya kasihkan orang tua,” ungkapnya.

Sebab, orang tuanya harus bekerja keras untuk dirinya dan ketiga saudaranya agar bisa tetap sekolah. Bahkan, bapaknya selain bekerja sebagai tukang bangunan, juga membuka bengkel tambal ban di rumahnya.

Bengkel itu dibukanya malam hari hingga larut, selepas pulang kerja sebagai tukang bangunan. Semua dilakukan orang tuanya untuk bisa menyekolahkan dia dan adik-adiknya.

Saat ini, keinginannya tidak muluk-muluk. Jaka ingin punya gerobak sampah yang umumnya dipakai tukang sampah. Sehingga, pekerjaannya lebih mudah. Sebab, selama ini pemerintah tidak memberikan gerobak sampah. Padahal, apa yang dikerjakannya, sedikit banyak membantu menjaga kebersihan lingkungan Kota Probolinggo juga.

”Selama ini saya pakai becak bekas yang dikasih tripleks bagian samping-sampingnya supaya bisa jadi gerobak. Kami berharap, Bapak Wali Kota menyediakan gerobak sampah untuk tukang buang sampah lingkungan,” harapnya. (*/hn)