Paguyuban PKL Protes Event Pemkot Probolinggo, Ada Apa?

BERLANJUT: Sejumlah tenda masih berdiri di Alun-alun Kota Probolinggo yang menjadi tempat acara Festival Pendalungan Pasar Rakyat Muslimat NU. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN – Keputusan Pemkot Probolinggo yang sering menggunakan event organizer (EO) dari luar daerah dalam menggelar acara di Kota Probolinggo, diprotes para pedagang kaki lima. Alasannya, di dalam daerah cukup banyak EO yang mumpuni atau minimal memanfaatkan potensi putra daerah.

Ketua Paguyuban PKL Kota Probolinggo Alifurrohman mengatakan, potensi EO putra daerah tidak difungsikan. Baik mulai event Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro), Festival Pendalungan Pasar Rakyat Muslimat NU, dan event lainnya, Pemkot lebih memilih menggunakan EO luar daerah.

“Sebetulnya kita bisa berembuk bareng, kami bisa membuat acara seperti yang ada sekarang. Sebab, jika pakai EO dari luar daerah, sedikit banyak juga berdampak pada penghuni stannya,” ujarnya.

Sejak Rabu (6/3) lalu, Pemkot Probolinggo menggelar Festival Pendalungan. Acara ini rencananya akan digelar sampai Selasa (12/3). Event ini digelar dengan menggandeng EO dari luar daerah. Karenanya, mendapatkan protes dari PKL. “Keterlibatan PKL dalam daerah sedikit. Beda jika menggunakan EO dari dalam daerah yang lebih memperioritaskan PKL dari kota sendiri,” ujar Alif.

Mendapati itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo Tutang Heru Wibowo mengakui jika dalam berbagai kegiatan sering menggunakan jasa EO dari luar daerah. Menurutnya, mereka berani bersaing dengan penawaran yang cukup bagus.

Selain itu, menurut Tutang, dalam setiap kegiatan, anggaran dari APBD sangat tipis. Bahkan, untuk menggelar Festival Pendalungan, menurutnya tidak ada anggaran dari APBD. Ketika acara ini ditawarkan kepada sejumlah EO, banyak yang tidak sanggup.

“Misalkan kita ada event, dari berbagai EO dengan anggaran yang tipis atau bahkan tidak ada, EO hanya mampu memberikan fasilitas A, B, dan C. Sementara EO lainnya mampu memberikan fasilitas A hingga J. Tentunya kami memilih EO yang memberikan fasilitas lebih baik. Maunya kami meski dana tipis atau bahkan tidak ada, banyak (banyak keinginan). Sementara yang bisa menjawab itu, rata-rata EO dari luar,” ujar Tutang.

Tutang mengatakan, bukan pihaknya tidak mau memakai EO dalam daerah. Namun, ia mengaku bekerja secara profesional. Sehingga, jika ada EO lokal yang mampu bersaing dengan EO lainnya, pihaknya akan memilih EO putra daerah.

“Acara ini saja (Festival Pendalungan) tidak ada dananya, tapi pihak EO berani mendatangkan Sodik. Jika EO lokal mampu bersaing atau paling tidak memberikan fasilitas yang sama, maka kami tidak perlu jauh-jauh mencari EO dari luar daerah,” ujarnya. (rpd/rud)