Pasar Baru Bantaran Diresmikan, Los Lebih Kecil tapi Bersih

BANTARAN – Sejumlah pedagang Pasar Bantaran yang sempat protes sudah mulai mereda. Kemarin, Pasar Bantaran yang baru selesai direvitalisasi telah diresmikan. Selama proses peresmian, tidak ada protes yang disampaikan pedagang.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, peresmian itu dilakukan Hasan Aminuddin, anggota Komisi VIII DPR RI. Suami Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari ini mengatakan, revitalisasi Pasar Bantaran ini merupakan hasil upaya dari Pemkab untuk merevitalisasi semua pasar tradisional. Nah, Kabupaten Probolinggo mendapatkan alokasi langsung dari Kementerian Perdagangan, pembangunan pasar yang ditempatkan di Bantaran.

”Alhamdulillah, komunikasi baik yang kami lakukan dengan Menteri Perdagangan memberikan manfaat pada masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Yaitu, diberikan alokasi revitalisasi pasar tradisional dari kementerian langsung,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Soal adanya keluhan dari pedagang? Hasan mengungkapkan, ada perubahan konsep dari pasar tradisional menjadi pasar tradisional berbasis modern. Sebelumnya, pedagang tidak paham terkait pemanfaatan bedak dan los baru. Nantinya, akan ada sosialisasi dari Disperindag ke paguyuban dan para pedagang, terkait pemanfaatan menuju pasar tradisional berbasis modern.

”Mereka hanya belum paham saja soal pemanfaatan bedak dan los ini. Konsep pasar seperti ini sudah banyak dibangun di kota-kota besar wilayah Indonesia ini. Karena tujuannya, untuk memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun pengunjung pasar,” terangnya.

Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi melalui Kasi Pengelolaan Pasar Taufiq mengatakan, seperti yang disampaikan sebelumnya, sebelum dan pasca pembangunan revitalisasi pasar ini akan dilakukan sosialisasi. Termasuk sebelum pemanfaatan bedak dan los baru ini, akan dilakukan sosialisasi lebih dulu. Bagaimana, pemanfaatan bedak dan los yang sudah didesain oleh kementerian.

”Ini desain dan perencanaan langsung dari kementerian dan sama se-Indonesia yang dapat program ini. Di daerah lain para pedagang baju, peracangan bisa memanfaatkan los yang sama. Ini dibuat konsep pedagang dan pengunjung nyaman dan bersih,” terang.

NYIMAK: Pedagang mendengarkan Hasan Aminuddin, anggota DPR RI yang hadir dalam peresmian pasar, Minggu (10/3). (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Disinggung soal ukuran bedak dan los yang semakin sempit? Taufiq menegaskan, pemerintah daerah berupaya untuk terbaik pada semua pedagang. Sesuai datanya, ada sekitar 150 pedagang yang memiliki los atau bedak dan sekitar 50 pedagang berjualan di emperan alias tidak memiliki bedak. Nah, dengan konsep ini, semua pedagang akan mendapatkan tempat yang sama dan layak.

”Dengan konsep ukuran ini, semua pedagang bisa tertampung. Awalnya pedagang tak punya tempat, sekarang bakal punya tempat. Karena diperkirakan pasar ini bisa menampung sekitar 220 pedagang,” terangnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Bantaran Ahmad Taufik saat dikonfirmasi mengatakan, sempat ada keluhan dari sejumlah pedagang yang ukuran bedak dan losnya makin sempit. Namun, para pedagang tetap menerima kondisi yang ada. Terpenting ada solusi bersama. Oleh karena itu, nanti pedagang masih menunggu sosialiasi pemanfaatan bedak ini.

”Nanti masih menunggu sosialisasi untuk dibarikan solusi bersama untuk pedagang,” ujarnya. (mas/fun)