35 Nasabah Bakal Laporkan Pengurus KSU-Mitra Perkasa ke Polisi

MAYANGAN – Puluhan nasabah Koperasi Serba Usaha Mitra Perkasa (KSU-MP) berencana mempolisikan pengurus KSU-MP ke Polres Probolinggo Kota. Mereka akan melaporkan dengan tudingan penipuan dan penggelapan. Bahkan, mereka telah menunjuk Kantor Artono, Wahab, Association sebagai kuasa hukumnya.

“Ada 35 nasabah yang telah memberikan kuasa hukum kepada kami untuk melaporkan pengurus Koperasi Mitra Perkasa. Tidak hanya ketuanya saja, tapi pengurus,” ujar penasihat hukum para nasabah itu, Abdul Wahab, Senin (11/3).

Abdul mengatakan, tudingan penipuan ini didasarkan karena pengurus KSU-MP tetap berupaya mengumpulkan dana, seperti deposito meski kondisi keuangannya tidak bagus.

“Pada 2016 sebenarnya kondisi keuangan koperasi tidak bagus. Mulai 2016 atau saat dipegang ketua baru, nasabah yang hendak menarik uangnya tidak bisa. Tapi, pihak koperasi masih tetap mengumpulkan dana dari masyarakat. Ini yang kami sebut penipuan,” ujarnya.

Selain dugaan penipuan, pengurus KSU-MP juga dituding menggelapkan aset koperasi. Padahal, aset koperasi merupakan jaminan atas uang nasabah. “Penggelapan itu berupa penjualan aset kantor koperasi di Jalan Panglima Sudirman. Kantor itu dijual kepada orang Lumajang seharga Rp 7,5 miliar,” ujarnya.

Menurutnya, meski sudah dibayar, ternyata sertifikat kantor sudah ditebus oleh Welly. Sertifikat itu kemudian dijual Rp 4,5 miliar ke orang lain. “Orang Lumajang sudah melaporkan kasus ini ke polisi,” ujarnya.

Abdul menjelaskan, ada dua pasal yang bisa menjerat pengurus koperasi. Meliputi pasal 378 A KUHP dengan tuduhan penipuan sebagai mata pencaharian. Serta, pasal 374 KUHP tentang Penggelapan dalam Jabatan. “Sebenarnya beberapa dari 35 orang nasabah ini ragu untuk melaporkan ke Polresta. Sebab, sudah ada nasabah yang melapor, namun tidak ada tindak lanjut,” ujarnya.

Pengacara yang berkantor di Malang ini mengaku masih percaya untuk melaporkan ke Polres Probolinggo Kota. Namun, jika tidak diproses, pihaknya mengaku akan mengajak nasabah ke Polda Jatim. “Kalau tidak diproses, kami akan sewa bus untuk bersama-sama membuat laporan ke Polda Jatim,” ujarnya.

Abdul mengatakan, total dana 35 nasabah ini mencapai Rp 7,2 miliar. Setiap nasabah memiliki tabungan bervariasi. Mulai Rp 20 juta, Rp 50 juta, ada juga yang sampai Rp 500 juta. “Mereka menabung ada yang sejak 2008. Mereka mengaku pencairan sampai 2015 masih ada, meski terlambat. Setelah 2016, pencairan uang sulit sekali,” ujarnya.

Sedangkan, Kuasa Hukum KSU-MP Putut Gunawarman mengaku, baru mengetahui jika akan ada tuntutan hukum dari 35 nasabah terhadap pengurus koperasi. “Kami belum bisa menanggapi terkait rencana laporan itu. Karena dilaporkannya masih Kamis. Jadi belum bisa melihat tuntutannya seperti apa,” ujarnya.

Putut menilai, tuntutan ini berkaitan dengan keuangan koperasi. Sedangkan, saat ini pengurus atas nama anggota koperasi masih berupaya menuntut pihak-pihak yang belum mengembalikan duit koperasi. “Sepengetahuan kami baru ada dua nasabah yang melaporkan koperasi ke kepolisian,” ujarnya.

Adanya laporan pengurus koperasi ini dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendi. “Total ada 5 nasabah yang melapor. Saat ini masih proses pengumpulan bukti-bukti,” ujarnya. (put/rud)