Pencairan Program Indonesia Pintar di SMKN 1 Purwosari Diprotes

PURWOSARI – Pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SMK Negeri 1 Purwosari diprotes salah satu mantan wali murid. Pasalnya, sang anak yang seharusnya mendapat hak bantuan itu, ternyata tertolak. Alasannya, kolom tanda tangan tanda terima, ternyata sudah ada yang mengambil.

Dalam tanda terima tersebut, kolom untuk murid bernama Hernando Dian Gemilang, ditandatangani seseorang pada 20 Februari lalu. Padahal, yang bersangkutan mengaku tidak mengambil jatah bantuan tersebut. Apalagi, pada hari itu Hernando mengaku sedang di Sidoarjo mengikuti pelatihan kerja.

Hernando sendiri mengetahui jika dirinya tidak bisa mengambil haknya itu, Senin (11/3). Untuk membuktikan bahwa dirinya tidak pernah mengambil, ia lantas mencocokkan tanda tangannya dengan yang ada di KTP. Memang ada perbedaan antara tanda tangan di KTP dengan di tanda terima.

“Mestinya anak saya dapat pencairan dana PIP yang sudah menjadi haknya, meskipun sudah lulus sekolah. Nilainya Rp 500 ribu. Saat datang ke sekolah untuk mengambil, akhirnya tidak bisa karena sudah ada yang teken,” terang Wulandari, ibu Hernando saat dihubungi via telepon.

Wulandari mengatakan, bukan jumlahnya yang ia permasalahkan. Tapi, tertibnya pencairan bantuan tersebut. Apalagi, sang anak memang menunggu pencairan bantuan itu sejak masih sekolah, setahun lalu. Seharusnya, bantuan itu memang cair tahun lalu. Namun, entah kenapa baru cair setahun berselang. Karena itu, nama program tersebut adalah PIP 2018.

“Anak kami tentunya kecewa karena sudah menunggu. Sementara, siswa lain telah menerima bantuan itu,” bebernya. Karenanya, Wulandari berharap pihak sekolah segera menindaklanjuti hal itu. Sekolah wajib memberikan hak tersebut pada anaknya. Sekolah juga memastikan kondisi serupa tidak terjadi pada siswa lain.

 

Penjelasan Sekolah

Secara terpisah, pihak SMK Negeri 1 Purwosari melalui Taufik selaku kepala Tata Usaha (TU) menegaskan jika pihaknya positif thinking. Ia yakin tidak ada unsur kesengajaan bahwa tanda tangan itu dipalsu. Ia menduga ada kesalahan atau kekeliruan tanda tangan.

“Dugaan kami bisa saja ada siswa lain keliru tempat tanda tangan. Atau telah diambilkan oleh temannya. Ini, belum tahu secara pastinya, sekarang dalam proses kroscek dan masih berlangsung,” tuturnya.

“Kami pastikan Hernando tetap dapat dana dari PIP yang sudah menjadi haknya sebagai penerima. Akan kami berikan setelah proses krosceknya tuntas dulu,” katanya menjamin.

Taufik mengatakan, bantuan PIP ini baru pertama kali turun ke sekolahnya. Ada sekitar 500 penerima. Termasuk Herdando yang tercatat pelajar jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pangan (TPHP). Bedanya, yang lain sudah menerima. Sementara Hernando tidak. (zal/rf)