Dangdut ala Grup Band asal Amerika Ini Bikin Warga Kraksaan Bergoyang

Musik dangdut tak hanya digemari masyarakat Indonesia saja. Dangdut Cowboys buktinya. Band beraliran dangdut yang digawangi profesor asal Amerika Serikat bernama Andrew Weintraub, itu selalu tampil energik dengan dangdut sebagai warna musiknya.

MUKHAMAD ROSYIDI, Kraksaan

Dangdut Cowboys tampil menghibur masyarakat saat tampil di Gedung Islamic Center (GIC) Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Senin (11/3) malam lalu. Memakai topi koboi, baju dominan hitam, dan sepatu bot, mereka tampil menghentak dengan aliran musik yang tak asing di telinga masyarakat. Tepat sekali: Dangdut. Selengkapnya lihat videonya disini.

Irama musik yang menggebu dengan hentakan kendang dan lengkingan seruling yang syahdu, dibawakan dengan apik. Bagi yang hanya mendengar, tentu mengira irama itu dihasilkan musisi dalam negeri. Terutama yang selama ini menjadikan dangdut sebagai genrenya. Faktanya, musik dangdut itu dibawakan sekelompak ekspatriat.

Adalah Andrew Weintraub, profesor asal Amerika Serikat yang membentuk band tersebut. Andrew mengaku sebagai peneliti musik tradisional. Ia meneliti musik tradisional Indonesia, tepatnya di Sunda, pada tahun 1984.

“Awalnya saya mengenal musik dangdut itu saat melakukan penelitian musik tradisional di Indonesia. Tahunya yaitu dari rekaman,” terangnya sebelum manggung di acara yang digelar oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Probolinggo.

Sejak saat itu, kemudian ia keterusan mendengarkan musik dangdut. Semua musik dangdut yang diciptakan oleh musisi dangdut Indonesia, ia dengarkan. Tentu, sebagaian besar adalah ciptaan si Raja Dangdut Rhoma Irama. “Ya, sejak saat itu sudah saya mendengarkan lagu-lagu dangdut. Mulai dari lagu Rhoma Irama, Meggy Z, dan juga lainnya,” ungkapnya.

Malam itu, band yang terdiri atas 7 orang itu menyanyikan 12 lagu. Diawali dengan lagu Terajana, juga ada Mandi Madu, Syantik, Bujangan, Gadis atau Janda, Jera, dan juga lagu dangdut lainnya.

Andres yang juga sebagai profesor etnomusicology dari University of Pittsburg, Amerika Serikat itu menjelaskan, band tersebut dibentuk pada 2007 lalu. dengan komposisi vokal dua orang. Yakni, dirinya dengan Meghan Hyson. Lainnya, Stephen Schultz pada seruling, Samuel Boateng pada keyboard, Jhon Bagnato pada organ.

Dalam mempelajari musik dangdut, Andres menyebut kendala utama adalah bahasa. “Agak sulit di bahasa saja, untuk yang lain tidak ada,” ujarnya menjelaskan.

Ketertarikannya pada musik dangdut bukan tanpa alasan.

Menurutnya, musik dangdut itu ada ciri khasnya tersendiri. Itu, membuatnya senang di kala mendengarkan dan menyanyikannya. Sehingga, sampai saat ini ia menyukai musik tersebut. “Cengkok, kendang, seruling, itu sangat indah didengarkan. Itulah mengapa saya tertarik pada musik dangdut,” ujarnya.

Dangdut Cowboy juga mengolaborasikan musik dangdut dengan country. Menurutnya, ia telah banyak manggung di Amerika dengan membawa musik dangdut tersebut. Bahkan, ia juga pernah mengundang raja dangdut untuk berkolaborasi di Amerika. “Pernah berkolaborasi. Kami senang dan juga banyak yang senang di negara kami,” terangnya.

Grup band dangdut tersebut adalah satu-satunya di Amerika Serikat. Tetapi, tidak menutup kemungkinan ada grup band baru yang akan muncul. Selama di Indonesia, rencananya grup band itu akan manggung di dua daerah lain selain di Probolinggo. Yaitu di Bandung dan Jakarta.

“Nanti akan kami menggoyang mereka yang ada di kedua kota itu. Kami akan menyanyikan lagu dangdut bersama-sama,” ungkapnya. Sementara itu, Meghan, vokalis perempuan grup band itu juga mengaku tertarik ke dangdut. Ketertarikannya tidak lain sama yang diucapkan oleh Andrew.

“Tidak jauh berbeda dengan Andrew. Kami memang menyukai musik dangdut ini,” ungkapnya. “Bahasanya kan bahasa Indonesia. Jadi harus dipelajari dulu. Untuk cengkok sudah lumayan,” terangnya. (rf)