Nelayan di Lekok Mengeluh Akibat SPBN Sering Kehabisan Solar

LEKOK – Cuaca yang mulai bersahabat, membuat sejumlah nelayan di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, sedikit kelimpungan. Sebab, untuk melaut, mereka sering kesulitan untuk mendapatkan solar. Sedangkan, kuota solar di SPBN Lekok sering kehabisan.

KESULITAN BAHAN BAKAR: Nelayan di Lekok saat hendak berangkat melaut. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Akibatnya, banyak nelayan yang terpaksa membeli di SPBU dan pedagang eceran. Sedangkan, harga solar di pengecer jauh lebih mahal. Sehingga, membuat ongkos melaut semakin membengkak.

Salah seorang nelayan Desa Wates, Kecamatan Lekok, Ikhya Ulumudin mengatakan, sejak 3 bulan terakhir banyak nelayan di Pesisir Lekok yang kehabisan jatah solar. Sedangkan, di luar SPBN tidak selalu ada dan pembeliannya dibatasi. “Kebutuhan solar nelayan tinggi, tapi kuota di SPBN sering habis. Yang kehabisan ini harus cari solar lagi di luar,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan warga Desa Wates, Kecamatan Lekok, Muhammad Nasir. Menurutnya, ada nelayan dari tiga desa yang terdampak sering habisnya kuota solar di SPBN Lekok. “Terutama nelayan di (Desa) Wates, Jatirejo, dan Tambak Lekok, yang paling banyak mencari solar untuk melaut. Karena sering habis, nelayan harus mencari solar di tempat lain,” ujarnya.

Agar tidak kehabisan stok, sejak pukul 07.00, jeriken nelayan sudah berjajar mengantre sampai sore. Namun bila sudah habis, mereka harus mencari solar ke tempat lain.

Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Alamsyah Supriadi mengatakan, sejak awal 2019, kuota solar SPBN nelayan di Kabupaten Pasuruan sudah ditambah. Yang semula hanya 16 ribu liter per hari, kini menjadi 150 ribu liter per hari.

“Sebenarnya sudah ada kenaikan kuota yang signifikan. Hanya saja sejak pertengahan Februari terjadi musim melaut dan permintaan solar menjadi cukup tinggi,” ujarnya.

Selain itu, yang menjadi masalah, saat kuota solar habis, tangki SPBN harus menunggu untuk diisi. Inilah yang membuat solar sampai kosong dan tidak bisa melayani pembeli. “Berbeda dengan SPBU yang tangkinya banyak, sehingga saat satu habis dan diisi, bisa menggunakan tangki yang lain,” ujarnya.

Alamsyah mengatakan, terkait keluhan ini, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan AKR. Menurutnya, sejak SPBU membatasi pembeli solar dengan jeriken, banyak nelayan yang akhirnya membeli di SPBN. Sehingga, permintaan pembelian solar meningkat. (eka/rud/fun)