Punya Nama Unik, Pemulung di Probolinggo Ini Dulu Kerap Dibully saat Masih Kecil

Punya nama unik membuat pria kelahiran 1970, asal Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo ini terkenal. Lelaki yang masih lajang ini memiliki nama lengkap “Hari Libur”.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kanigaran

Nama tersebut diberikan almarhum orang tuanya lantaran Hari Libur dilahirkan pada hari Minggu. Jangan heran karena itulah yang diceritakan Hari Libur saat Jawa Pos Radar Bromo menemuinya ketika sedang bekerja mencari barang rongsokan.

DATA DIRI: Kartu keluarga dan KTP Hari Libur. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Sehari-hari, lelaki yang sudah menginjak usia 48 tahun itu memang menjadi pemulung. Dia biasa mencari barang bekas di sekitaran Kelurahan Kebonsari. Dia pun tersipu saat diajak wawancara. Namun Hari Libur akhirnya santai saja lantaran itu sudah menjadi takdirnya.

Menurutnya, almarhum orang tuanya memberinya nama Hari libur lantaran saat dirinya lahir ke dunia pada hari Minggu pagi. Alasan itulah yang membuat almarhum ayahnya bernama Asmad, memberinya nama Hari Libur. “Mungkin yang ada dibenak ayah saya karena pada saat itu hari minggu, jadi hari libur,” terangnya sambil tersenyum.

Lelaki yang akrab dipanggil Hari itu menyebutkan, nama memiliki pengaruh yang sangat luar biasa besar terhadap kehidupan seseorang. Secara psikologis, seorang anak terpengaruh dengan nama dan panggilan yang diberikan kepadanya.

Hari pun bercerita ketika dia kecil dahulu. Hari mengungkapkan, saat dia SD memang sering jadi bahan bully. Beranjak dewasa, kata Hari, banyak orang kaget saat dia mengenalkan namanya, terutama bagi orang baru sudah hal yang wajar. “Sekarang sudah biasa,” terang pria yang tinggal di RT 5/RW 3, di Jl KH Hasan Bayusari 5, Kelurahan Kebonsari Wetan tersebut.

Ketika usianya beranjak 48 tahun, Hari mengaku hingga saat ini dia masih lajang. Beberapa tahun lalu dirinya sempat bertunangan dengan gadis asal Dringu. Rupanya gadis itu bukan jodohnya. Gadis itu pada akhirnya menikah dengan orang lain. “Dulu sempat tunangan, kami hubungan selama setahun. Selanjutnya dia menikah dengan orang lain,” bebernya.

Pria yang hanya lulusan SD itu mengaku bahwa lima tahun terakhir ini ia bekerja sebagai pemulung. Dari hasil kerjanya mencari bahan bekas yang masih layak pakai, setidaknya dia bisa mendapatkan penghasilan. “Setiap harinya saya cari barang bekas,” tambahnya.

Saat ditanya pengahasilan yang didapatkan setiap harinya, Hari mengaku dalam sehari bekerja paling tidak mendapatkan Rp 100 ribu. Terhitung mulai berangkat pukul 08.00 hingga pukul 16.00. “Saya nyarinya disini-sini (Kelurahan Kebonsari) saja,” bebernya.

Hasil jerih payahnya itu ia bagikan juga untuk keponakannya. Pasalnya, hingga kini dia berada atau tinggal bersama dengan kakaknya. Sebagian dia simpan untuk tabungan.

Ditanya harapan, rupanya pria lajang itu tak mau neko-neko. Dia hanya ingin rezekinya dilimpahkan. Sehingga paling tidak usahanya untuk mencari barang bekas dipermudah.

“Sebelumnya saya kerja sopir angkut. Namun lima tahun terakhir saya kerja jadi pencari barang bekas. Terpenting bagi saya bisa mendapatkan rezeki yang halal itu sudah cukup,” harapnya. (fun)