Puluhan Nasabah Resmi Laporkan Pengurus KSU Mitra Perkasa

CARI KEADILAN: Sejumlah nasabah KSU Mitra Perkasa yang ditemui Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal. Rabu (13/3) pagi puluhan nasabah resmi melaporkan pengurus koperasi. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO – Rencana nasabah Koperasi Serba Usaha (KSU) Mitra Perkasa (MP) untuk melapor ke polisi bukan hanya gertak sambal. Rabu siang (13/3) puluhan anggota koperasi berbondong ke Mapolresta guna melaporkan pihak koperasi dengan tuduhan penggelapan.

BERPOLEMIK: Kantor KSU Mitra Perkasa di jalan raya Panglima Sudirman. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Bersama kuasa hukumnya Abdul Wahab Adi Negoro, puluhan nasabah melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Polres Probolinggo Kota. Mereka melaporkan pengurus KSU MP yang berkantor di Jalan Raya Panglima Sudirman, kota setempat. Dalam laporannya, nasabah menuding, pengurus hanya janji-janji, uang anggota yang berbentuk tabungan dan deposito tak kunjung dicairkan.

Dari 31 anggota yang melapor, terkumpul dana total Rp7,2 miliar yang nyantol di KSU MP. Mulai tabungan Rp20 juta hingga ada yang depositonya hampir 1 miliar. Seperti milik Agus Triyanto 61. Pria yang tinggal Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini, ikut melapor karena uang tabungan dan depositonya yang jumlahnya Rp118 juta, tak cair.

Agus terpaksa melaporkan pengurus koperasi karena gerah dengan janji-janji koperasi yang tak pernah dipenuhi. Ia meminta, uangnya dan seluruh anggota koperasi segera dicairkan. “Kami ini anggota koperasi sejak 2006 silam. Tujuh bulan lalu, uang kami dijanjikan akan dicairkan. Kami menuntut hak dan keadilan. Saya mulai curiga koperasi tidak sehat satu setengah tahun lalu,” bebernya.

Mulanya pihak koperasi berjanji akan dicairkan secara bertahap mulai bulan Desember 2018 hingga Februari lalu. Namun rupanya tidak ada pencairan sama sekali. “Sampai sekarang uang saya belum cair. Tuntutan kami ya sama, kembalikan. Jika tidak, dipenjara saja pengurusnya,” katanya singkat.

Sementara itu, kuasa hukum para nasabah Abdul Wahab Adi Negoro menyatakan, laporannya sudah diterima Polresta dan bukti penerimaannya sudah dipegang. Kliennya menempuh jalur hukum, karena janji-janji KSU MP tidak pernah terealisasi. Setidaknya yang melapor ada 31 nasabah, sedangkan total yang masuk ke dirinya yakni 39 nasabah. Jumlah itu bisa bertambah lagi. Sebab sisanya masih melengkapi dokumen.

Advokat asal Kota Malang ini menyebut, diduga pengurus koperasi telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Pasal yang digunakan adalah pasal 379 A KUHP penipuan sebagai mata pencaharian. Sedang untuk kasus dugaan penggelapannya, pasal 374 KUHP Penggelapan dalam jabatan.

Disebutkan, Welly Sukamto sebagai terlapor dan pengurus yang lain turut terlapor, telah menipu masyarakat dan nasabah. Welly Sukamto pernah menjadi ketua. Tahun 2016 koperasi masih tetap mencari atau menerima tabungan dan deposito dari anggota dan msayarakat, padahal, koperasi dalam kesulitan likuiditas.

“Koperasi dalam kesulitan, itu pernyataan pak Welly. Pernyataan itu tertuang di gugatan. Pak welly kan menggugat mantan ketua koperasi Zulkifli Chalik. Kebetulan, saya sebagai kuasa hukum dari tergugat Zulkifli Chalik,” tandasnya.

Semestinya koperasi yang kesulitan keuangan, lanjut Wahab, tidak boleh mencari atau menerima tabungan atau deposito dari siapa saja. Meski tabungan dan deposito yang diperoleh untuk mengatasi kesulitan koperasi. “Lantas kemana uangnya. Uang anggota belum ada yang dibayar. Nah, disinilah penipuannya.” tambahnya.

Pengurus juga dituding telah menjual asset koperasi berupa kantor di Jalan raya Panglima Sudirman. Itu diperkirakan terjadi bulan Agustus 2018, dimana kantor KMP dijual 2 kali dan laku ke penjual pertama, Rp7 miliar. Sedang pembeli kedua, laku Rp4 miliar. “Saat pembeli pertama ke bank untuk mengambil sertifikatnya, sudah diambil oleh Pak Welly. Ternyata dijual lagi ke orang lain,” jelasnya.

Sejauh ini ini nasabah melalui kuasa hukum masih mencari dan mengumpulkan data aset koperasi yang belum dijual. Karena menurutnya, aset koperasi adalah jaminan koperasi. Jika koperasi tidak mengalami kesulitan keuangan hingga tidak mampu membayar tabungan atau deposito, maka asset tersebut harus dijual. “Kami masih menginventaris asset koperasi. Nanti saya laporkan ke penyidik temuan kami soal aset koperasi,” ujarnya.

 

Polisi Dalami Laporan

Laporan yang dibuat masabah KSU MP rupanya tidak main-main. Para nasabah pun berharap agar kepolisian mengeluarkan surat cekal (Segah dan Tangkal) terhadap Welly dan pengurus koperasi lainnya.

Hal itu diungkapkan Abdul Wahab Adi Negoro, kuasa hukum nasabah koperasi. Surat cekal itu, kata Wahab berharap seperti itu, khawatir Welly kabur ke luar negeri. Mengingat, tidak hanya di Kota Probolinggo saja adanya koperasi yang bermasalah. Cabang koperasi di Lumajang dan Pasirian, juga bermasalah. “Harusnya dicekal. Khawatir kabur ke luar negeri,” pungkasnya.

Sementara itu, puluhan anggota sempat bertemu dengan Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal. Puluhan anggota berharap ada lindungan hukum atas kasus yang dideritanya. Sehingga pihak pengurus koperasi segera mengembalikan uangnya serta orang yang bertanggung jawab, dihukum sesuai ketentuan yang berlaku.

“Laporannya sudah kami terima. Nantinya kami akan lakukan penyelidikan lebih dalam lagi,” terang Alfian pada saat dimintai komentar media ini. (rpd/fun)