Tak Banyak Ketahui Kejadian, Saksi Kasus Pembakaran Maling Dianggap Tidak Layak Dihadirkan

KRAKSAAN – Sidang kasus pembunuhan Samhadi, maling yang dibakar di Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo kembali digelar Kamis (14/3). Dalam sidang yang agendanya menghadirkan saksi, tim jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan dua orang.

Dua saksi yang dihadirkan tersebut adalah Mohammad Zainullah, warga Tlogosari, di Kecamatn Tiris. Satu lagi adalah Yuniarto, penyidik di Polsek Tiris. Sejatinya dalam sidang, JPU berencana menghadirkan 3 saksi. Namun karena berhalangan, hanya dua yang datang.

Sidang digelar pukul 11.00. Sidang dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan Gatot Ardian. Delapan terdakwa yakni Amin, 45; Rofi, 36; Mistar, 43; Suparman, 43; Samin, 35; Sugi, 25; dan Edi Efendi, 21; dan juga Saton, hadir dan menyimak keterangan saksi.

Gatot yang menjadi Ketua majelis hakim sempat mencerca saksi Zainullah, yang dalam keterangannya memberikan kesaksian singkat. Sehingga tidak banyak yang digali dari ketua majelis. Dalam kesaksiannya, Zainullah menyebutkan, dia mengetahui kejadian pembakaran Samhadi ketika pulang dari ziarah wali lima. Zainullah pun mengaku melihat insiden pembakaran Samhadi dari dalam mobil.

Namun, keterangan itu ternyata berbeda dengan Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) kepolisian. Itu, diketahui saat JPU Ardian Junaedi mencecar pertanyaan kepada saksi. Saat dicecar pertanyaan itu, saksi tidak membenarkan pada jawaban pertama. Melainkan, ia membenarkan apa yang disampaikan di BAP.

Begitu juga saat dicecar pertanyaan penasihat hukum 8 terdakwa, Prayuda Rudi. Jawaban saksi berbeda lagi. Sehingga kemudian membuat majelis hakim mempertegas mana jawaban yang benar.

“Jawaban yang benar yang mana. Kamu ini ditanya jawabannya tidak sama. Ini ada konsekuensi hukumnya. Kamu sudah disumpah tetapi jawaban kamu tidak sama,” ujar Gatot.

Mendapati hal itu, Zainullah kembali memberi pernyataan. Tapi lagi-lagi kesaksiannya dianggap berbeda dengan BAP. Karena hal itu, penasihat hukum 8 terdakwa, Zainullah tidak layak untuk dijadikan saksi. Pasalnya, yang memenuhi sarat sebagai saksi tak lain adalah yang melihat, mendengar dan mengalami langsung.

“Tadi kan ada katanya-katanya. Berarti tidak mengalami sendiri. Karena itu saksi yang dihadirkan itu tidak layak dijadikan saksi,” ujarnya singkat.

Sementara itu, JPU Ardian membantah jika saksinya itu tidak layak. “Nanti akan kami hadirkan kembali untuk yang Zainullah ini. Mengingat kesaksiannya masih belum jelas dan terkesan berbelit belit. Karenanya, kami akan menghadirkan kembali bersama penyidiknya,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Juli tahun 2018 silam, Samhadi meregang nyawa. Pelaku pencurian kendaraan bermotor itu, dibakar oleh massa. Usai insiden tersebut, polisi menetapkan 8 orang sebagai tersangka. (sid/fun)