Belum Tetapkan KLB DBD, Biaya Pengobatan Belum Digratiskan

BANGIL-Banyaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pasuruan, jadi sorotan DPRD setempat. Wakil rakyat itu mempertanyakan kinerja pemkab dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes) dalam melakukan pengobatan maupun antisipasi penyakit tersebut.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Shobih Asrori mengatakan, kasus DBD di Kabupaten Pasuruan terus bermunculan. Bahkan, ada yang sampai meninggal dunia. Hal inilah yang mengundang tanda tanya dewan.

“Bagaimana kinerja pemkab, itu yang kami pertanyakan. Karena kasus DBD ini sungguh meresahkan. Di tempat saya Wonorejo, ada yang sampai meninggal dunia,” terangnya. Shobih –sapaan akrabnya – mengatakan, pihaknya ingin mengetahui langkah Dinkes dalam penanganan DBD tersebut. Sehingga, masyarakat tidak lagi waswas.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Abu Bakar menguraikan, harus ada penanganan yang efektif untuk memberantas penyebaran DBD. Apalagi, biaya perawatannya cukup mahal. Bisa sampai Rp 3 juta. “Ternyata di RSUD Bangil tidak gratis. Saya sudah beberapa kali mengantar warga. Dan, itu semua dikenai biaya,” tukasnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Pasuruan Agung Basuki mengatakan, jumlah kasus DBD di Kabupaten Pasuruan memang terus bermunculan. Hingga pertengahan Maret ini, sudah ada 66 kasus. Dua di antaranya meninggal dunia. Meski begitu, belum ada penetapan status KLB (Kejadian Luar Biasa). Alasannya, kasus yang ditemukan belum sampai lipat dua dibanding tahun sebelumnya.

Hal inilah yang membuat pelayanan pengobatan gratis di RSUD Bangil belum diberlakukan. “Belum ditetapkan sebagai KLB untuk wilayah Kabupaten Pasuruan. Karenanya, penggratisan belum diberlakukan. Beda dengan 2016 lalu,” katanya.

Agung mengatakan, pihaknya sudah bekerja maksimal untuk mencegah penyebaran virus DBD. Tak hanya mendorong masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), tetapi juga fogging. Meski fogging sendiri, sebenarnya menjadi pilihan terakhir. Karena fogging, hanya ampuh untuk membasmi nyamuk dewasa, bukan jentiknya.

“Kami sudah melakukan 51 kali fogging di beberapa wilayah Kabupaten Pasuruan. Itu belum termasuk fogging mandiri yang dilakukan swasta. Tapi fogging ini, hanyalah jalan terakhir. Karena pemberantasan sarang nyamuk, lebih penting,” pungkasnya.

 

Siaga 1 DBD

Sebelumnya, Dinkes menerapkan siaga 1 untuk DBD. Penerapan siaga 1 ini dikatakan sampai awal Mei mendatang, yang diprediksi sudah akhir musim hujan. Agung Basuki mengatakan, bahwa jumlah penderita DBD yang masih dirawat di rumah sakit, masih ada sampai Maret ini.

Termasuk dari catatan Dinkes, warga Kabupaten Pasuruan yang terkena kasus DBD sebanyak 52 kasus pada Januari dan Februari. “Dari jumlah tersebut, 2 warga meninggal dunia. Dua warga ini adalah orang dewasa dimana sempat dirawat ke RS Saiful Anwar Malang namun meninggal,” terangnya.

Dari jumlah warga yang meninggal, sementara untuk tahun 2019 ini memang masih 2 orang. Turun dibandingkan tahun 2018 lalu yang mencapai 4 orang. Namun, jumlah ini dikatakan belum bisa dibandingkan. Lantaran data tahun 2019, masih di awal tahun dan terus berjalan.

Meskipun saat ini hujan sudah mulai jarang turun di Kabupaten Pasuruan, namun Dinkes masih menerapkan siaga 1 untuk DBD. Termasuk terus memantau jika ditemukan area yang warganya terindikasi DBD. Sehingga, langsung dilakukan fogging. “Termasuk terus kita imbau masyarakat melakukan 4M yaitu menguras, menutup, mengubur, dan mengawasi sebagai antisipasi,” terangnya.

Soal masih adanya pasien DBD yang dirawat di RSUD Bangil, dibenarkan humas rumah sakit pelat merah itu, Ghozali. Ia mengatakan, bahwa sampai Maret ini jumlah pasien DBD yang dirawat di RSUD Bangil dikatakan masih ada. Data sementara dari RSUD Bangil pada Desember 2018 lalu ada 52 pasien yang dirawat. Sedangkan Januari ada 25 pasien dan Februari meningkat menjadi 56 pasien.

“Selama hujan untuk DBD masih ada, prediksi sampai bulan Mei nanti sampai benar-benar tidak ada hujan,” terangnya. Dikatakan penyakit DBD memang menempati posisi tertinggi untuk penyakit yang diderita pasien terutama saat musim hujan. Hal ini terjadi lantaran terjadi intensitas hujan yang tinggi, perubahan cuaca yang memicu genangan air dan mengakibatkan berkembangbiaknya jentik nyamuk aedes aegypti. (one/eka/rf)