Cerita Pendamping ODHA di Pasuruan, Ditolak Memakamkan Penderita

Menjadi relawan pendamping ODHA, bukan perkara mudah. Bila tidak hati-hati, bisa berisiko tertular HIV/AIDS. Namun, hal itu tak membuat gentar Afi Sunantoro. Buktinya, ia rela melakukan pendampingan terhadap ODHA sejak 2006 silam hingga sekarang. Bahkan, tak jarang uang pribadinya “katut” untuk operasional pendampingan.

IWAN ANDRIK, Bangil

Handphone warna putih itu tiba-tiba berdering. Dengan sigap, tangan kanan Afi Sunantoro “menyambar” ponsel yang ditaruhnya di atas meja. Suara perempuan pun terdengar dari balik panggilan. Nadanya, meminta agar Suntoro -sapaannya- segera datang.

“Biasa, Mas, ada yang minta pendampingan,” kata Suntoro selesai mematikan handphone-nya. Suntoro merupakan relawan yang memberikan pendampingan kepada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Ia sudah berkecimpung di dunia pendampingan ODHA sejak 2006 silam.

Meski tak lagi tergabung dengan Non Goverment Organisation ataupun yayasan, ia juga aktif melakukan pendampingan terhadap ODHA secara mandiri. “Saya pernah ikut Genta Surabaya, Paramitra, hingga Bambu Nusantara untuk pendampingan ODHA. Tapi sekarang, tidak lagi. Meski begitu, saya masih sering melakukan pendampingan kepada ODHA,” akunya.

Baginya, memberikan pendampingan terhadap ODHA merupakan sebuah ibadah. Karena rata-rata, mereka yang terjangkit ODHA di wilayah Kabupaten Pasuruan maupun Sidoarjo merupakan kalangan menengah ke bawah.  Kehidupan yang susah, tentu akan semakin memberatkan mereka dengan penyakit yang diderita. “Sudah hidupnya susah, masak tidak ditolong,” sambungnya.

Menurut Suntoro, bergelut dengan ODHA awalnya membuatnya waswas. Takut tertular sudah pasti muncul dalam benaknya. Namun, hal itu akhirnya mampu dihilangkannya. Setelah ia mendapatkan pemahaman, ketika bergabung dengan lembaga NGO atau LSM.

“Awalnya takut setengah mati. Tapi, sekarang tidak lagi. Karena saya paham, penularan HIV/AIDS tidak gampang seperti yang dipikirkan sebelumnya,” imbuh lelaki kelahiran 3 Maret 1972 tersebut. Dengan bekal yang dimiliki itulah, pendampingan terhadap ODHA dilakukan. Tidak hanya di wilayah Kabupaten Pasuruan, tetapi juga Sidoarjo.

Beberapa NGO diikutinya. Hingga tiga tahun belakangan, ia tidak terikat dengan NGO lagi. Namun, bukan berarti ia tak melakukan pendampingan. Karena banyak telepon yang kerap datang.

Mereka rata-rata teman sesama relawan serta ODHA yang membutuhkan pendampingan. Karena tak terikat lembaga, tak jarang ia harus mengeluarkan uang pribadi. Kebanyakan, untuk operasional. “Pekerjaan saya sopir mobil dan tukang ojek. Uang hasil ngojek dan nyupir itulah yang biasanya digunakan untuk operasional saat pendampingan ODHA,” ungkap dia.

Selama berkecimpung menjadi relawan, banyak hal yang dilaluinya. Pernah di suatu kampung, ada orang meninggal dengan kasus HIV/AIDS. Saat itu, warga menolak untuk dimandikan dan dimakamkan di lingkungan setempat. Karena mereka takut, wabah itu menyebar melalui tanah dan air.

Padahal, tidak demikian. Karena HIV/AIDS baru bisa menular melalui hubungan badan maupun cairan tubuh. Namun, begitu tentu tak serta merta. Karena penularannya pun cukup sulit. Bahkan, seorang ibu yang positif HIV/AIDS, berpeluang tidak menularkan kepada anaknya. Asalkan, mengikuti program.

Seperti persalinan melalui Caesar dan tidak memberikan ASI kepada si buah hati. “Mereka sempat menolak awalnya. Tapi, setelah kami lakukan pendampingan, akhirnya mereka paham dan mau dimakamkan di makam setempat,” kisah dia.

Pengalaman lain yang pernah diingatnya hingga sekarang, ketika seorang SPG mengidap HIV/AIDS. Perempuan tersebut hamil dan membutuhkan bantuan untuk persalinan. Tidak ada cukup uang untuk persalinannya. Karena diminta Rp 9 juta. Ia kemudian memutar otak untuk membantu. Sampai kemudian, ia menyelesaikan dengan menguruskan Jamkesda.

“Bayi dan ibunya selamat. Bahkan, orang tuanya beberapa waktu kemudian sampai datang ke rumah memberi hadiah dan uang Rp 3 juta ke saya sebagai rasa terima kasih. Tapi, saya tidak menerimanya. Itu yang membuat saya bangga menjadi relawan dan terkenang hingga sekarang,” ungkap lajang yang tinggal di Gempol ini. (rf)