Upaya Pemdes Glagahsari Kelola Sampah Rumah Tangga jadi Kompos

Dahulu Desa Glagahsari selalu berpolemik dengan sampah rumah tangga di lingkungannya. Lambat laun permasalahan sampah teratasi. Kini sampah bahkan punya nilai ekonomis.

SAMPAH rumah tangga dulu pernah menjadi sebuah momok di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo. Penyebabnya, dahulu sampah menumpuk dan mengganggu lingkungan sekitar. Acapkali sampah yang menummpuk itu menimbulkan kondisi yang kurang sehat bagi warga.

Tapi itu dulu. Sekarang persoalan tersebut mulai berangsur teratasi. Karena sampah rumah tangga yang ada dan dihasilkan, dikelola lagi ditempat pengelolaan sampah terpadu reduce reuse dan recycle (TPST 3R) yang sudah dimiliki desa ini. Sebuah fasilitas untuk mengelola sampah yang dibangun tahun lalu dengan dibiayai dari APBN.

“Dahulu sampah menjadi kendala, sekarang sudah berkurang sedikit demi sedikit. Karena limbah rumah tangga yang dihasilkan dimasing-masing rumah penduduk, diolah lagi di TPST 3R,” ungkap Kades Glagahsari, Pratika Hidayat.

Untuk sampah rumah tangga, kata kades, desa memiliki petugas yang rutin melakukan pengambilan di masing-masing rumah warga. Utamanya dari sekitar 700 KK rumah.

Setelah sampah diambil, sampah sebelum dipilah sebelum diolah di TPST 3R. Sampah yang berupa plastik atau nonorganic, disendirikan. Jika ada sampah yang bisa di daur ulang, dikemas dan dijual ke pengepul.

DIKELOLA: Sampah di TPST 33 milik Desa Glagahsari yang saatini sudah dikelola menjadi barang bermanfaat. (Foto: Rizal Fahmi Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Sedangkan sampah berupa organic seperti sisa makanan, daun, ranting, kotoran hewan dan lainnya, tak dibuang. Oleh petugas selanjutnya diolah menjadi kompos untuk pupuk. Nah, kompos ini cocok buat tanaman sayuran dan buah-buahan.

“Proses ini sudah berjalan sekitar empat bulan terakhir. Tentunya juga melibatkan warga sekitar untuk menjadi petugasnya dilapangan. Imbasnya menjadi positif, yakni lingkungan menjadi sehat dan bersih,” tukas lelaki yang akrab disapa Dayat tersebut.

Agar pengelolaan sampah rumah tangga ini menjadi maksimal, pengawasan sekaligus operasionalnya dibawah naungan BUMDEs. “Dari sampah ini, paling tidak ada nilai ekonomisnya. Untuk operasional petugas, juga tambahan PAD desa,” katanya. (zal/fun)